Nilai Harmoni Bali sebagai Penangkal Burnout
- 05 Jun 2026 09:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Di tengah derasnya arus modernisasi dan tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif, menjaga kesehatan mental menjadi tantangan yang dihadapi banyak pekerja. Tekanan pekerjaan, target yang terus bertambah, hingga minimnya waktu untuk beristirahat dapat memicu burnout atau kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan. Namun di tengah kondisi tersebut, nilai-nilai harmoni yang diwariskan dalam budaya Bali dinilai tetap relevan sebagai penyangga kesehatan mental masyarakat.
Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 6 Juni 2026, Dokter dan Psikiater, Prof. Cok Bagus Jaya L, SpKJ(K),MARS mengungkapkan bahwa masyarakat Bali pada masa lalu dikenal memiliki kehidupan yang mengedepankan keharmonisan. Hubungan antarmanusia, keterhubungan dengan lingkungan, serta keseimbangan dalam menjalani aktivitas menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perubahan zaman telah membawa perubahan ritme kerja yang sangat cepat. Jika dahulu masyarakat memiliki ruang untuk menikmati proses dan menghasilkan karya dengan karakter yang kuat, kini banyak pekerjaan lebih berorientasi pada target dan produktivitas. Kondisi tersebut kerap membuat seseorang kehilangan makna dalam bekerja dan rentan mengalami burnout.
Prof. Cok Bagus menilai, salah satu hal yang perlu dikembalikan adalah nilai harmoni yang selama ini menjadi kekuatan budaya Bali. Harmoni tidak hanya berarti hubungan yang baik dengan orang lain, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan kebutuhan diri sendiri.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ (K)mengingatkan pentingnya memberi ruang bagi diri untuk melepaskan tekanan yang dirasakan. Ketika beban pekerjaan mulai terasa berat, seseorang perlu mengenali kondisi dirinya, mencari cara untuk menenangkan pikiran, serta memberikan waktu untuk memulihkan energi sebelum kembali beraktivitas.
Nilai-nilai yang hidup dalam budaya Bali, seperti kebersamaan, keseimbangan, dan rasa syukur, dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak semata-mata diukur dari pencapaian pekerjaan. Melainkan juga dari kemampuan menjaga kesehatan diri dan membangun hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar.
Di tengah dunia kerja yang terus bergerak cepat, menjaga harmoni menjadi langkah sederhana namun penting untuk mencegah burnout. Sebab ketika keseimbangan hidup tetap terjaga, produktivitas dan kesehatan mental dapat berjalan beriringan, menciptakan kehidupan yang lebih sehat, bermakna, dan bahagia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....