Kearifan Lokal Bali yang Diam-Diam Menjadi Benteng Hadapi Bencana

  • 16 Jun 2026 12:01 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Bali dikenal luas karena kekayaan budaya dan tradisinya. Namun di balik berbagai upacara adat dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun, terdapat peran penting yang sering luput dari perhatian, yakni sebagai benteng masyarakat dalam menghadapi bencana. Kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat ternyata tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga membantu membangun ketangguhan menghadapi berbagai ancaman alam.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Kamis, 11 Juni 2026, Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama BPBD Provinsi Bali, Ida Ayu Shinta Anggarini, S.M., menilai kearifan lokal lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan alam. “Kearifan lokal itu sudah menjadi budaya, kebiasaan, dan nilai yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang alam dan bagaimana masyarakat harus bersikap menghadapi berbagai kondisi,” ujarnya.

Menurutnya, Bali memiliki berbagai modal sosial yang dapat mendukung mitigasi bencana, seperti sistem banjar, semangat gotong royong, hingga filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai-nilai tersebut membuat masyarakat terbiasa bekerja sama dan saling membantu ketika menghadapi situasi darurat.

Pandangan serupa disampaikan Dosen lmu Kelautan & Ketua Unit Bisnis, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana, I Putu Yogi Darmendra, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa filosofi Tri Hita Karana telah melahirkan berbagai aturan adat atau awig-awig yang berfungsi menjaga lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana. Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui penguatan sosial dan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Bali.

Salah satu contoh kearifan lokal yang masih bertahan adalah Nyepi Segara yang diterapkan di sejumlah wilayah pesisir Bali. Tradisi ini memberikan waktu bagi laut untuk “beristirahat” dengan menghentikan aktivitas penangkapan ikan dan pelayaran selama periode tertentu. Selain menjaga kelestarian ekosistem laut, praktik tersebut juga menunjukkan bagaimana masyarakat lokal memiliki cara tersendiri dalam menjaga keseimbangan alam.

Meski demikian, tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi. Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat, minat generasi muda untuk memahami cerita, filosofi, dan aturan adat mulai berkurang. Padahal, nilai-nilai tersebut tidak hanya penting untuk melestarikan budaya, tetapi juga menjadi modal sosial yang berharga dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.

Karena itu, berbagai pihak mendorong agar kearifan lokal tidak hanya dikenalkan sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga dipahami manfaatnya dalam kehidupan modern. Dengan menggabungkan pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah, Bali memiliki peluang besar untuk mempertahankan warisan budayanya sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....