Rai Mantra : Konsep Tri Hita Karana Subak Adalah Sains Mitigasi Bukan Doktrin

  • 19 Mei 2026 13:17 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID,Denpasar- Anggota Komite III DPD RI Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si., menegaskan bahwa filosofi Tri Hita Karana dalam sistem Subak UNESCO, bukan sekadar doktrin spiritual kuno melainkan sebuah metode sains universal, untuk memitigasi bencana ekologis, akibat keserakahan pembangunan modern. Ketika berbincang dalam program Rahina Ayu di Pro 4 RRI Denpasar, Rabu, 13 Mei 2026.

Rai Mantra mengungkapkan pandangan mendalam ini dilontarkan, karena maraknya pergeseran makna filosofis di lapangan, keseimbangan alam sering kali dikorbankan demi mengejar target pertumbuhan ekonomi finansial yang masif.

Rai Mantra menambahkan, eksploitasi alam yang berlebihan tanpa mengindahkan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan, terbukti telah memicu berbagai bencana alam seperti banjir bandang dan degradasi taksu Bali. “Oleh karena itu, konsep peleburan spiritualitas daerah ke dalam pola perilaku sehari-hari, harus dibangkitkan kembali sebagai modal non-material yang bernilai tinggi di mata peradaban global” ucap Rai Mantra.

Rai Mantra mengungkapkan, model pengelolaan berbasis pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat adat yang ideal, sebenarnya dapat dicontoh dari kesuksesan kawasan Geopark Gunung Rinjani di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Melalui komitmen kuat dalam menjaga keharmonisan ekosistem, masyarakat Rinjani mampu mempertahankan predikat tertinggi berupa Green Card dari lembaga dunia UNESCO.

Rai Mantra mendorong agar pola pikir masyarakat dan pemerintah daerah, beralih dari sekadar memburu keuntungan finansial, menuju pemenuhan manfaat perlindungan martabat kebudayaan. Perkawinan antara konsep modernisasi dan kekuatan modal budaya (culture capital), diharapkan dapat menjadi jembatan harmonis ,untuk menyembuhkan paradoks kemiskinan di tengah hiruk-pikuk industri pariwisata.

Melalui pemahaman spiritualitas yang matang, subak diproyeksikan tidak hanya menghasilkan material berupa padi, melainkan juga memanifestasikan makna kehidupan sejati yang diwariskan turun-temurun. "Dengan Tri Hita Karana ini sebetulnya ada keseimbangan yang tentunya bisa diatur melalui RDTR ataupun regulasi lainnya” tutup Rai Mantra.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....