Kenapa Kita Mudah Iri? ternyata Ini yang Sering Dilupakan Banyak Orang

  • 11 Mei 2026 08:24 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Rasa iri hati yang muncul dalam kehidupan sehari-hari dinilai bukan semata karena ketidakmampuan seseorang, melainkan karena mulai hilangnya rasa syukur atas apa yang dimiliki. Hal tersebut dibahas dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar bersama Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami dan Ni Luh Putu Parwati, Minggu 10 Mei 2026.

Dalam dialog tersebut, Sukma mengungkapkan pengalaman pribadinya saat merasa tidak nyaman melihat tetangganya mengenakan perhiasan mahal. “Saya mulai merasa, kok dia bisa membeli barang semahal itu sedangkan saya tidak bisa,” ujarnya.

Sementara Parwati menjelaskan, dalam ajaran Hindu rasa iri dikenal sebagai Matsarya yang termasuk dalam konsep Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia. Ia mengatakan, perasaan iri dapat mengganggu ketenangan batin apabila tidak dikendalikan dengan baik.

“Dalam ajaran Hindu, iri hati itu disebut Matsarya dan termasuk enam musuh dalam diri manusia,” katanya. Ia menambahkan, rasa iri sering muncul karena seseorang terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.

Menurutnya, sikap bersyukur menjadi salah satu cara untuk meredam munculnya iri hati dalam diri. Bersyukur tidak berarti berhenti berusaha, melainkan menerima keadaan dengan hati tenang sambil terus memperbaiki diri.

Parwati juga mengingatkan pentingnya menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha, yakni berpikir, berkata, dan berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. “Jika pikiran kita dipenuhi perbandingan, maka ucapan dan tindakan kita juga akan ikut terpengaruh,” jelasnya.

Selain itu, ajaran Tatwam Asi disebut menjadi pedoman penting agar seseorang mampu ikut berbahagia atas kebahagiaan orang lain. Dengan memahami bahwa semua manusia berasal dari sumber yang sama, rasa iri dinilai dapat ditekan dan digantikan dengan empati.

“Ketika kita berhenti membandingkan dan mulai mensyukuri apa yang kita punya, di situlah ketenangan batin mulai muncul,” tutup Sukma. Dialog tersebut mengajak masyarakat untuk lebih mengenali diri sendiri dan membangun rasa syukur dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....