Pentingnya Menyesuaikan Pelaksanaan Adat dengan Kondisi Zaman

  • 15 Apr 2026 07:28 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Siaran Obrolan Galang Kangin Pro RRI Denpasar edisi Rabu, 15 April 2026 mengangkat tema “Mangda Sami-Sami Mamargi” yang menyoroti pentingnya kebersamaan dalam menjalankan kehidupan sosial dan adat di Bali. Dalam obrolannya, Ajik Tibah dan Beli Kejoer mengajak masyarakat untuk saling memahami dan mencari solusi bersama di tengah tantangan kehidupan modern.

Dalam perbincangan tersebut Tibah dan Kejoer mengungkapkan bahwa masyarakat kini menghadapi dilema antara kewajiban pekerjaan dan tanggung jawab adat di lingkungan banjar. Kondisi ini kerap menimbulkan kebingungan, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu karena tuntutan pekerjaan.

Tibah menekankan bahwa tidak semua kewajiban dapat dijalankan secara bersamaan sehingga diperlukan skala prioritas. "Setiap individu diharapkan mampu menentukan pilihan dengan bijak tanpa mengabaikan nilai-nilai adat dan budaya," ungkapnya.

Selain itu, pentingnya komunikasi dan musyawarah di tingkat banjar dan desa adat menjadi kunci dalam menemukan jalan tengah. Dengan adanya dialog terbuka, berbagai permasalahan dapat dicarikan solusi yang tidak merugikan salah satu pihak.

Salah satu solusi yang diusulkan adalah pembentukan kelompok atau serati banten untuk membantu pelaksanaan upacara. Dengan sistem ini, masyarakat tetap dapat menjalankan kewajiban adat tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama secara berlebihan.

Upaya tersebut juga dinilai dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang memiliki keterampilan dalam membuat sarana upacara. Di sisi lain, warga tetap dapat berkontribusi melalui dukungan dana atau partisipasi sesuai kemampuan masing-masing.

Sementara Kejoer menyampaikan pentingnya menyesuaikan pelaksanaan adat dengan kondisi zaman tanpa menghilangkan makna dan nilai spiritualnya. "Penyesuaian ini niscaya mampu menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perubahan sosial," tegasnya.

Masyarakat diimbau untuk tidak saling membandingkan bentuk upacara yang dilaksanakan oleh orang lain. Fokus utama hendaknya tetap pada ketulusan, makna, dan kemampuan masing-masing individu dalam menjalankan yadnya.

Mengakhiri perbincangan, masyarakat Bali diajak untuk berjalan bersama dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kewajiban adat. Dengan semangat gotong royong dan saling pengertian, diharapkan kehidupan sosial tetap harmonis dan budaya tetap lestari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....