Tri Hita Karana dan Relevansinya dalam Menghadapi Perubahan Iklim

  • 14 Apr 2026 09:58 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Perubahan iklim yang kini semakin terasa nyata mendorong berbagai pihak untuk mencari cara beradaptasi, tidak hanya melalui pendekatan ilmiah, tetapi juga melalui nilai-nilai kearifan lokal. Di Bali, konsep Tri Hita Karana kembali menjadi sorotan sebagai pedoman hidup yang dinilai relevan dalam menjaga keseimbangan alam di tengah perubahan zaman.

Dalam Dialog Rahajeng Bali pada Kamis, 9 April 2026, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bali, Putu Suta Wijaya menyebut bahwa perubahan alam saat ini tidak bisa dihindari. Cuaca yang sulit diprediksi, hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat, hingga meningkatnya potensi bencana menjadi tanda bahwa manusia perlu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.

Kabid Pemajuan Hukum Adat, Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, Ida Bagus Rai Dwija, menjelaskan bahwa sejak dahulu masyarakat Bali sebenarnya telah memiliki landasan kuat untuk menjaga keharmonisan dengan alam melalui filosofi Tri Hita Karana.

“Dalam konsep ini, manusia diajarkan untuk menjaga harmoni antara hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Ini yang harus terus dihidupkan, terutama di tengah kondisi alam yang berubah,” ujarnya.

Menurutnya, alam tidak untuk ditaklukkan, melainkan dijaga keseimbangannya. Ketika manusia mulai mengeksploitasi tanpa memperhatikan harmoni, maka dampak yang muncul akan kembali dirasakan oleh manusia itu sendiri, salah satunya dalam bentuk bencana.

Nilai-nilai dalam Tri Hita Karana juga tercermin dalam peran desa adat di Bali. Desa adat tidak hanya berfungsi sebagai struktur sosial, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan lingkungan. Dengan kewenangan yang dimiliki, desa adat berperan dalam mengatur tata ruang, menjaga kelestarian alam, hingga menanamkan kesadaran kolektif kepada masyarakat.

“Setiap wilayah di Bali pada dasarnya berada dalam lingkup desa adat. Di sinilah nilai-nilai kearifan lokal dijaga dan diwariskan, termasuk bagaimana manusia harus hidup selaras dengan alam,” tambah Rai Dwija.

Di tengah isu perubahan iklim, pendekatan berbasis budaya ini dinilai mampu melengkapi upaya mitigasi dan adaptasi yang dilakukan pemerintah dan berbagai komunitas. Tidak hanya sebatas program, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran dan kebiasaan hidup masyarakat.

Upaya sederhana seperti menjaga lingkungan, menanam pohon, hingga tidak merusak alam menjadi bagian dari implementasi nilai tersebut. Jika dilakukan secara konsisten, langkah-langkah kecil ini diyakini mampu memberikan dampak besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Perubahan alam memang tidak bisa dihentikan sepenuhnya, namun cara manusia meresponsnya akan menentukan masa depan. Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai Tri Hita Karana, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjaga harmoni yang menjadi kunci keberlangsungan kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....