Banten Mengandung Simbol-simbol Suci
- 09 Apr 2026 08:43 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Program Surya Puja RRI menghadirkan penyuluh agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, dalam siaran bertema “Persembahan Banten: Tradisi dan Agama”, Kamis, 9 April 2026). Dalam pemaparannya, narasumber menyoroti masih adanya kekaburan pemahaman antara tradisi dan ajaran agama di tengah masyarakat.
Arya menjelaskan bahwa tradisi merupakan kebiasaan yang berkembang di masyarakat, sedangkan agama berlandaskan pada keyakinan dan sastra suci. Oleh karena itu, keduanya memiliki keterkaitan, namun tidak dapat disamakan secara mutlak.
Ia menguraikan bahwa banten adalah sarana persembahan dalam upacara keagamaan Hindu yang sering dikaitkan dengan canang. Namun demikian, tidak semua banten dapat disebut canang karena terdapat berbagai jenis banten dengan fungsi dan makna yang berbeda.
"Dalam praktiknya, masyarakat sering menyederhanakan istilah banten menjadi canang atau sesajen," ungkap Arya. Ditambahkan, di dalam banten terkandung simbol-simbol suci seperti porosan yang melambangkan Trimurti.
Penyuluh agama Hindu Kota Denpasar tersebut juga menjelaskan keterkaitan istilah banten dengan konsep wali yang memiliki makna historis dan spiritual. Kisah perjalanan Resi Markandeya turut disampaikan sebagai bagian dari perkembangan tradisi keagamaan di Bali.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemahaman agama Hindu di masyarakat masih belum merata akibat rendahnya minat membaca dan pemahaman terhadap sastra agama. Kondisi ini dapat memicu munculnya sikap fanatisme sempit dan kecenderungan menyalahkan praktik yang berbeda.
Arya mencontohkan fenomena dalam masyarakat yang sering menilai benar atau salahnya suatu praktik hanya berdasarkan kebiasaan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi kerap dijadikan tolok ukur utama tanpa mempertimbangkan ajaran agama yang sesungguhnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat dalam membuat banten atau sarana upacara secara berlebihan demi penilaian sosial. Motivasi seperti ingin dipuji atau mengikuti gengsi dinilai dapat mengaburkan makna tulus dari sebuah persembahan.
Menurutnya, pelaksanaan upacara yang berlebihan justru dapat menimbulkan beban ekonomi dan tekanan mental. Tujuan awal untuk mencapai ketenangan dan keharmonisan malah berpotensi berubah menjadi sumber stres.
"Dalam konteks tersebut, umat Hindu diingatkan agar tidak terjebak pada sikap pamer atau berlebihan dalam beragama," jelas Arya. Ia menjelaskan, nilai keikhlasan dan kesederhanaan menjadi hal utama dalam setiap persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Arya menegaskan bahwa tradisi seharusnya menjadi pendukung agama, bukan sebaliknya mendominasi ajaran agama. Jika tradisi lebih diutamakan tanpa dasar sastra, maka pelaksanaan agama dapat menjadi rumit dan menyimpang.
Di akhir siaran, Arya mengajak umat untuk memahami konsep pelaksanaan agama berdasarkan prinsip kemampuan atau “utama, madya, nista”. Dengan demikian, pelaksanaan upacara dapat dilakukan secara tulus, sederhana, dan sesuai ajaran.
Ia menekankan bahwa agama harus menjadi pedoman utama yang kemudian ditradisikan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pemahaman yang benar, umat diharapkan mampu mencapai tujuan hidup berupa kesejahteraan lahir dan batin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....