Maknai Pagerwesi, Umat Hindu Diingatkan “Magehang Awak” dengan Pengetahuan Sejati
- 08 Apr 2026 15:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar —Umat Hindu merayakan Hari Raya Pagerwesi setiap 210 hari, tepat pada Buda Kliwon Wuku Sinta. Pada hari suci ini, pemujaan dipersembahkan kepada Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru.
Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar, I Made Arka, menjelaskan bahwa Pagerwesi berasal dari kata pager atau pageh yang berarti kokoh dan wesi yang berarti kuat. Makna tersebut mencerminkan pentingnya memperkuat diri secara spiritual.
“Pada Hari Raya Pagerwesi ini, umat Hindu memohon kekuatan kepada Sang Hyang Pramesti Guru, yakni kekuatan pengetahuan sejati untuk memagari diri,” ujarnya di Denpasar, Rabu 8 April 2026.
Ia menambahkan, pengetahuan yang diperoleh, khususnya saat Hari Raya Saraswati, hendaknya digunakan sebagai landasan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, bukan sebaliknya.
“Ilmu pengetahuan itu penting, tetapi jangan digunakan ke arah negatif. Melalui Pagerwesi, kita diajak untuk memagari diri dari hal-hal negatif,” jelasnya.
Lebih lanjut, Made Arka mengajak umat Hindu untuk menjadikan Pagerwesi sebagai momen introspeksi diri, sehingga ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat dan membawa kebaikan.
“Setelah mendapatkan ilmu, kita ‘memasupati’ diri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan magehang awak,” tambahnya.
Dalam perayaan Pagerwesi, terdapat beberapa sarana upacara (banten) yang digunakan, di antaranya Sesayut Panca Lingga untuk para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat. Selain itu, banten inti meliputi natab Sesayut Pagehurip, Prayascita, dan Dapetan yang dilengkapi dengan daksina, canang, serta sodaan.
Melalui perayaan ini, umat Hindu diharapkan mampu memperkuat spiritualitas dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pelindung diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....