Momentum Sakral IBTK, Spiritual Umat Hindu Bali 2026

  • 02 Apr 2026 12:51 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Karangasem - Pelaksanaan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih kembali menjadi momentum sakral yang merepresentasikan puncak aktivitas keagamaan umat Hindu di Bali. Upacara ini tidak hanya memiliki dimensi ritual, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam sebagai bentuk konsolidasi spiritual antara manusia, alam, dan Tuhan.

Karya Ida Bhatara Turun Kabeh merupakan rangkaian upacara besar yang dilaksanakan secara berkala di kompleks pura terbesar di Bali tersebut. Secara konseptual, upacara ini mencerminkan keyakinan umat Hindu terhadap turunnya manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta para dewa ke dunia untuk memberikan anugerah serta keseimbangan kosmis.

Bendesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiartha menyampaikan, selama nyejer 21 hari karya umat hindu di Bali khususnya, maupun dari luar pulau turut hadir tangkil ke pura penataran untuk pelaksanaan persembahyangan. “Selama 21 hari nyejer karya sampai tanggal 23 April 2026, tentu kami harapkan dalam momentum ini umat hindu di Bali khususnya maupun luar pulau dapat meluangkan waktu untuk tangkil ke pura,” ujarnya pada Kamis, 02 April 2026.

Disisi lain terkait dengan pengamanan, Penasehat Pecalang Desa Adat Besakih Jro Wira menyebut, bahwa pengamanan selama karya berlangsung sejak melasti manggala pecalang telah bersigap, serta telah berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti Polri, untuk meminimalisir kemacetan yang biasanya terjadi setiap tahun ke jalur Pura Penataran Agung Besakih. “Kami tetap berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk pengamanan, tentu kami mencegah adanya kemacetan panjang seperti tahun sebelum-sebelumnya,” ucapnya.

Selama dudonan acara hari ini turut terlibat beberapa instansi pendidikan ngatur ayah-ayahan, seperti yang disampaikan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Hindu Indonesia, Dr. Ir. Made Novia Indriani, untuk implementasi dunia pendidikan dari UKM Tari menampilkan Tari Rejang Kukus Harum, dengan persiapan selama 2 minggu. “Bersama dengan dosen UNHI kami bersinergi untuk persiapan jelang karya sebelumnya dengan waktu 2 mingguan,” pungkasnya.

Pelaksanaan karya ini merupakan implementasi ajaran Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni hubungan antara manusia dengan Tuhan Parahyangan, manusia dengan sesama pawongan, dan manusia dengan lingkungan palemahan. Oleh karena itu, ritual ini tidak hanya berorientasi pada aspek spiritual, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan kesadaran ekologis masyarakat.

Karya Ida Bhatara tahun ini, tidak disediakan tempat sampah, sehingga diharapkan pemedek yang tangkil tidak membawa plastik, atau jika terlanjur membawa agar bisa dibawa pulang kembali, sehingga tidak menyisakan sampah ketika akan tangkil. Dengan demikian, Karya Ida Bhatara Turun Kabeh tidak hanya menjadi manifestasi religius, tetapi juga simbol keberlanjutan budaya Bali yang berbasis nilai-nilai kearifan lokal.

Upacara ini mempertegas posisi Pura Besakih sebagai pusat spiritual yang memiliki peran strategis dalam menjaga identitas dan integritas budaya Hindu Bali di tengah arus globalisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....