Bukber: Dari Tradisi Kerukunan hingga Fenomena Reuni
- 14 Feb 2026 18:17 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Setiap kali bulan Ramadan tiba, satu kata yang paling sering terdengar di ruang percakapan masyarakat adalah "Bukber". Singkatan dari buka puasa bersama ini telah bertransformasi dari sekadar kegiatan makan saat azan magrib, menjadi sebuah fenomena sosiologis yang melibatkan jutaan orang, mulai dari lingkaran keluarga hingga rekan kerja.
Secara bahasa, Bukber adalah akronim khas Indonesia yang mencerminkan sifat masyarakat yang senang meringkas istilah teknis menjadi sebutan yang lebih akrab. Mengutip catatan sosiologi keagamaan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, tradisi buka puasa bersama berakar dari nilai-nilai keislaman tentang keutamaan memberi makan orang yang berpuasa dan mempererat silaturahmi.
Dahulu, tradisi ini dilakukan secara sederhana di masjid atau surau melalui penyediaan takjil gratis bagi musafir. Namun, seiring urbanisasi yang pesat pada medio 1980-an, tradisi ini mulai bergeser ke ruang publik seperti rumah makan dan pusat perbelanjaan sebagai sarana pertemuan sosial masyarakat kota yang sibuk.
Di era digital, para pakar budaya menyebut Bukber sebagai bentuk nyata dari media sosial luar jaringan atau luring. Berdasarkan laporan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas, Bukber sering kali menjadi ajang reuni nasional. Agenda ini menjadi jembatan untuk menyambung kembali komunikasi yang biasanya hanya terjadi di grup pesan singkat.
Meski terkadang diwarnai fenomena pamer pencapaian, esensi utama Bukber tetaplah pencarian koneksi manusiawi yang tulus di tengah kehidupan yang serba cepat.
Dari sisi ekonomi, fenomena Bukber adalah motor penggerak utama bagi sektor kuliner di Indonesia. Data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) menunjukkan bahwa selama bulan Ramadan, omzet pedagang makanan dapat meningkat signifikan. Fenomena ini menciptakan lapangan kerja musiman dan menggerakkan roda ekonomi dari tingkat pedagang kaki lima hingga restoran besar.
Meski jadwal Bukber kerap terasa padat, tradisi ini tetap menjadi identitas kultural yang memperkuat kohesi sosial di Indonesia. Bukber membuktikan bahwa di tengah perkembangan zaman, masyarakat Nusantara selalu menemukan cara untuk tetap terhubung dan merayakan kebersamaan dalam satu meja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....