Viral Tradisi Sesari di Bali, Benarkah Sudah Kehilangan Nilai Bhakti?
- 18 Mei 2026 08:19 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, edisi Jumat 15 Mei 2026, membahas makna sesari, bhakti, dan upah dalam tradisi Hindu Bali bersama Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Dr. Nym Arya, Kadek Aryani, dan I Wayan Bayu Dharmayana. Perbincangan tersebut menyoroti pentingnya menjaga nilai kesakralan sesari agar tidak bergeser menjadi sekadar imbalan jasa dalam pelaksanaan upacara keagamaan.
Dr. Nym Arya menegaskan bahwa sesari sejatinya merupakan wujud bhakti dan ketulusan umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Sesari itu sebagai inti daripada persembahan kita, jangan sampai bergeser hanya menjadi upah,” ujarnya dalam siaran RRI Denpasar.
Fenomena pengambilan sesari sebelum didoakan hingga praktik yang dianggap mengganggu kesucian ritual turut menjadi sorotan dalam dialog tersebut. Bayu Dharmayana mengatakan, banyak sekali fenomena orang mencari sesari, bahkan sebelum dipersembahkan sudah diambil, ini sangat meresahkan umat.
Dalam pembahasan itu juga disampaikan bahwa sesari idealnya dipersembahkan sebelum sulinggih memulai prosesi muput upacara agar tetap bermakna bhakti, bukan upah. “Kalau sesari diberikan setelah selesai muput, itu sudah bermakna upah,” kata Dr. Nym Arya menjelaskan etika pemberian sesari dalam tradisi Hindu Bali.
Selain itu, ketiga narasumber menilai perlu adanya pengelolaan dana umat yang lebih transparan dan tertata agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Kadek Aryani menutup perbincangan dengan ajakan kepada umat untuk mengembalikan makna sesari sebagai bentuk ketulusan hati. “Marilah kita kembalikan kesadaran bahwa sesari bukan soal besar kecilnya pemberian, tetapi soal rasa bhakti yang tulus,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....