Poligami dan Imajinasi: Penghancur Rumah Tangga
- 11 Feb 2026 21:13 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Pernikahan kerap dimulai dengan janji suci dan harapan akan kebahagiaan yang tumbuh bersama waktu. Namun dalam perjalanannya, tidak sedikit rumah tangga yang goyah bukan hanya karena persoalan ekonomi atau konflik terbuka, melainkan karena sesuatu yang lebih sunyi, yaitu imajinasi yang tak terkendali.
Dalam Program Rahajeng Bali pada Selasa, 10 Februari 2026, bersama Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, S.Pd. mengatakan, isu poligami menjadi salah satu faktor yang turut menyumbang meningkatnya angka perceraian. Di balik kata “poligami”, realitas yang sering terjadi bukanlah praktik terbuka sesuai hukum, melainkan perselingkuhan yang dipicu oleh dorongan hasrat dan fantasi.
“Banyak kasus berawal dari keinginan mencoba hal baru,” ujar Putu Sukma. Ia menjelaskan bahwa sebagian laki-laki terdorong oleh imajinasi seksual dan rasa penasaran terhadap pengalaman yang berbeda dari yang dijalani bersama pasangan sahnya.
Fantasi tentang sosok lain, pengalaman baru, atau gambaran ideal yang dibentuk dari visual dan lingkungan, perlahan menggerus komitmen yang telah dibangun. Padahal, pernikahan sejatinya menuntut kesadaran akan tanggung jawab dan kesetiaan.
Dalam ajaran Hindu, manusia dipandang sebagai makhluk yang dibekali akal dan pikiran, kemampuan untuk mengendalikan diri, bukan sekadar mengikuti dorongan nafsu. Ketika imajinasi dibiarkan tumbuh tanpa kendali, ia dapat berubah menjadi pembenaran untuk melukai pasangan sendiri.
Fenomena ini juga tidak berdiri sendiri, banyak faktor penyebabnya, seperti kesibukan pasangan, jarangnya waktu bersama, hingga kurangnya komunikasi kerap menjadi celah. Ada suami yang merasa kebutuhannya tak lagi terpenuhi karena istri sibuk mengurus anak atau bekerja.
Di sisi lain, istri bisa merasa diabaikan tanpa pernah benar-benar mengetahui kegelisahan pasangannya. Ketidakterbukaan inilah yang kemudian membuka ruang bagi pihak ketiga.
Ironisnya, poligami atau perselingkuhan sering kali diawali dari hal yang dianggap “sekadar khayalan”. Imajinasi yang terus dipelihara, ditambah akses media dan pergaulan membuat batas antara fantasi dan tindakan menjadi semakin tipis.
Apa yang semula hanya bayangan, berubah menjadi keputusan yang nyata dan berdampak panjang. Dampaknya bukan hanya pada pasangan, tetapi juga pada anak-anak yang tumbuh di tengah konflik.
Rumah tangga yang retak karena pengkhianatan meninggalkan luka emosional yang tidak sederhana. Rasa percaya yang hancur sulit dipulihkan, dan tidak jarang berujung pada perceraian.
Karena itu, kesiapan menikah tidak cukup hanya dengan cinta. Ia juga menuntut kedewasaan emosional, pengendalian diri, serta komitmen untuk menjaga kesetiaan dalam pikiran maupun tindakan.
Imajinasi adalah bagian dari manusia, tetapi ketika ia lebih dominan daripada tanggung jawab, maka fondasi rumah tangga bisa runtuh perlahan. Di tengah meningkatnya kegamangan generasi muda terhadap pernikahan, isu ini menjadi pengingat bahwa membangun keluarga bukan sekadar tentang menemukan pasangan, melainkan juga tentang menjaga komitmen.
Sebab pada akhirnya, rumah tangga tidak hancur dalam satu malam, ia retak sedikit demi sedikit, sering kali dimulai dari fantasi yang tak pernah dikendalikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....