Perempuan Tidak Berutang Perasaan, Belajar Menolak tanpa Rasa Bersalah

  • 29 Jul 2026 06:04 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Banyak perempuan tumbuh dengan pesan tidak tertulis seperti jangan terlalu tegas, Jangan terlalu jujur ketika menolak seorang laki-laki yang mengungkapkan perasaan. Akhirnya, saat merasa tidak nyaman, yang keluar justru alasan-alasan yang aman.

Padahal inti pesannya sederhana yaitu tidak tertarik. UN Women menegaskan bahwa otonomi atas diri dan batasan pribadi adalah hak setiap individu. Tidak ada kewajiban untuk membalas rasa hanya karena seseorang sudah berusaha mendekat.

Budaya populer sering menggambarkan penolakan sebagai awal perjuangan. Laki-laki yang terus mendekat walau sudah ditolak dianggap gigih. Perempuan yang konsisten menolak justru dicap terlalu kaku.

Padahal batasan bukan permainan tarik-ulur. Harvard Business Review membahas pentingnya menghormati consent dalam relasi profesional maupun personal. Ketika seseorang mengatakan tidak, respons paling dewasa adalah berhenti, bukan meningkatkan intensitas pendekatan.

Penolakan adalah bentuk kejujuran dan mencegah harapan palsu dan relasi yang timpang. Psychology Today menyebut bahwa komunikasi langsung, meski terasa tidak enak, justru lebih sehat secara emosional dibanding sikap ambigu. Kejelasan bisa mengurangi asumsi, menghentikan spekulasi dan melindungi kedua belah pihak dari luka yang lebih panjang.

Rasa tidak nyaman juga tidak selalu harus dibuktikan dengan alasan besar. Tidak perlu ada kesalahan fatal untuk membenarkan batasan.

World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa kesehatan mental berkaitan erat dengan kemampuan seseorang menjaga batas personalnya. Jika interaksi membuat cemas atau tertekan, itu sudah alasan yang sah untuk berhenti.

Sering kali penolakan diterjemahkan sebagai penghinaan, seolah harga diri runtuh hanya karena perasaan tidak berbalas. Padahal ketertarikan memang tidak pernah bisa dipaksakan dua arah.

Forbes menyoroti bahwa kedewasaan emosional terlihat dari cara seseorang menerima penolakan tanpa defensif. Ditolak bukan berarti direndahkan. Itu hanya berarti perasaan tidak berada di frekuensi yang sama.

Tekanan sosial membuat sebagian perempuan memilih diam demi menjaga suasana tetap nyaman. Namun kenyamanan sepihak bukan solusi, American Psychological Association mencatat bahwa mengabaikan batas pribadi secara terus-menerus dapat meningkatkan stres dan kelelahan emosional. Diam bukan tanda setuju. Diam sering kali hanya bentuk bertahan.

Perempuan berhak jujur tentang ketidaknyamanan tanpa takut dicap berlebihan. Speak up bukan bentuk kebencian, melainkan perlindungan diri. Penolakan juga bukan tindakan kasar, tetapi komunikasi yang jelas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....