Belajar Berdamai dengan Pencapaian Orang Lain

  • 15 Jun 2026 14:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar: Di era media sosial, melihat pencapaian orang lain menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari keberhasilan karier, bisnis yang berkembang, hingga kemampuan membeli berbagai kebutuhan dan keinginan, semua dapat dengan mudah terlihat melalui layar gawai. Namun, tidak semua orang mampu menyikapinya dengan tenang. Sebagian justru merasa tertinggal dan mulai membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Dalam Acara Rahajeng Bali, pada Selasa, 9 Juni 2026, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, menilai perasaan iri sering muncul ketika seseorang terlalu fokus pada apa yang dimiliki orang lain. “Bukan karena kita tidak mampu, tetapi sering kali karena kita kurang mensyukuri apa yang sudah kita miliki,” ujarnya.

Menurutnya, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang mencapai keberhasilan lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Perbedaan latar belakang keluarga, tanggung jawab, kesempatan, hingga pengalaman hidup membuat setiap individu memiliki jalur yang tidak sama untuk mencapai tujuan hidupnya.

Karena itu, membandingkan hasil akhir kehidupan orang lain dengan proses yang sedang dijalani diri sendiri sering kali hanya menimbulkan tekanan yang tidak perlu. Seseorang mungkin melihat teman mampu membeli emas, kendaraan baru, atau menikmati liburan mewah, tanpa mengetahui perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan untuk mencapainya.

Putu Sukma mengajak masyarakat untuk mengubah rasa iri menjadi rasa kagum yang memotivasi. Daripada mempertanyakan mengapa orang lain bisa mencapai sesuatu, lebih baik menjadikan keberhasilan tersebut sebagai inspirasi untuk memperbaiki diri dan menyusun langkah menuju tujuan yang ingin dicapai.

Ia mencontohkan, ketika melihat orang lain berhasil berinvestasi atau memiliki usaha yang berkembang, seseorang tidak perlu merasa kalah. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi dorongan untuk mulai belajar, menabung, atau mengembangkan kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kondisi masing-masing.

Dalam pandangan spiritual, berdamai dengan pencapaian orang lain juga berarti belajar menerima diri sendiri. Kesuksesan tidak selalu berbentuk harta atau popularitas, melainkan juga ketenangan batin, kesehatan, keharmonisan keluarga, dan kemampuan melewati berbagai tantangan hidup dengan baik.

Di tengah budaya perbandingan yang semakin kuat, terutama di media sosial, kemampuan untuk bersyukur dan menghargai perjalanan hidup sendiri menjadi semakin penting. Ketika seseorang mampu berdamai dengan keberhasilan orang lain, ia tidak hanya terbebas dari rasa iri, tetapi juga memiliki ruang yang lebih besar untuk tumbuh, berkembang, dan menemukan makna kesuksesan dalam versinya sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....