Rasa Saja Tak Cukup? Fenomena Objektifikasi Perempuan dalam Promosi Kuliner
- 23 Jul 2026 15:33 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Promosi di era digital seperti saat ini semakin berkembang dengan berbagai inovasi dan kreativitas. Namun, seringkali promosi kuliner mengandalkan visual perempuan berpakaian minim, gestur sensual, hingga memvisualisasikan bagian sensitif perempuan.
Fenomena ini memunculkan rasa penasaran apakah makanan menjadi lebih menarik karena cita rasanya atau karena tubuh perempuan dijadikan alat pemasaran. Menurut tandofline.com, strategi tersebut dikenal dengan sexual appeal advertising yaitu penggunaan unsur seksual untuk meningkatkan daya tarik iklan.
Cara ini terbukti ampuh menarik perhatian audiens dalam waktu singkat namun seringkali meninggalkan kesan yang berbeda. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perhatian konsumen sering kali terfokus pada model yang ditampilkan, bukan pada produk yang dijual.
Akibatnya, pesan utama mengenai kualitas makanan tertutupi oleh visual yang provokatif. Wujud dari promosi ini mudah ditemukan di media sosial seperti menunjukkan perempuan sedang menikmati makanan dengan ekspresi sensual. Bahkan, saat ini tengah ramai diperbincangkan mengenai makanan yang dibentuk menyerupai bagian sensitif dari perempuan.
Fenomena ini menciptakan pro kontra di tengah masyarakat meski ada saja konten kreator yang mengulas makanan tersebut. Dalam kondisi tersebut, perempuan tidak lagi diposisikan sebagai individu yang memiliki identitas, melainkan sebagai alat meningkatkan engagement.
Menurut Journals of USJ University, para akademisi menyebut praktik tersebut sebagai objektifikasi perempuan. Ketika perempuan dinilai berdasarkan daya tarik seksual bukan karena kemampuan atau kepribadiannya.
Objektifikasi berbeda dengan sekadar menampilkan perempuan dalam iklan. Masalah muncul ketika tubuh perempuan diperlakukan layaknya komoditas yang dipakai untuk menjual produk.
Ironisnya, sejumlah riset menunjukkan bahwa penggunaan objektifikasi perempuan belum tentu meningkatkan niat membeli produk. Melainkan Sebagian konsumen justru memberikan citra negatif terhadap merek yang penggunaakan pendekatan tersebut.
Objektifikasi perempuan dalam promosi kuliner dapat dianggap tidak etis atau mengeksploitasi perempuan demi keuntungan bisnis. Artinya, sensasi memang dapat mendatangkan perhatian sesaat, tetapi belum tentu membangun loyalitas dalam jangka panjang.
Bagi pelaku usaha kuliner, kreativitas promosi tentu menjadi kebutuhan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat. Namun, kreativitas tidak harus mengorbankan martabat seseorang.
Makanan seharusnya dikenal karena rasa, kualitas, dan pengalaman yang ditawarkannya. Bukan karena tubuh seseorang yang dijadikan "umpan" pemasaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....