Subak Bukan Sekadar Saluran Air, tetapi Penjaga Ketahanan Pangan Bali

  • 13 Jul 2026 14:34 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Di tengah pesatnya pembangunan dan perubahan iklim yang semakin terasa, sistem subak di Bali kembali menunjukkan perannya yang jauh melampaui fungsi sebagai saluran irigasi. Warisan budaya yang telah diakui UNESCO ini menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan, keseimbangan lingkungan, sekaligus kehidupan sosial masyarakat Bali.

Selama ini, banyak orang mengenal subak hanya sebagai jaringan pembagian air ke sawah. Padahal, di balik aliran air tersebut terdapat sistem pengelolaan yang mengedepankan kebersamaan, musyawarah, serta penghormatan terhadap alam. Melalui subak, distribusi air dilakukan secara adil sehingga seluruh petani memperoleh kesempatan yang sama untuk mengolah lahannya.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Kamis, 9 Juli 2026, Analis Prasarana dan Sarana Pertanian Ahli Muda Distanpangan Provinsi Bali, Dice Fice Siska Ndoen, SST., M.Agb, menjelaskan bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh kesuburan tanah, tetapi juga oleh kondisi jaringan irigasi yang terpelihara. Ketika saluran air rusak atau tersumbat, dampaknya tidak hanya dirasakan petani berupa menurunnya hasil panen, tetapi juga dapat meningkatkan risiko banjir saat musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Karena itu, pemeliharaan jaringan irigasi menjadi tanggung jawab bersama. Tidak hanya petani melalui organisasi subak, tetapi juga pemerintah, penyuluh pertanian, hingga berbagai unsur masyarakat yang ikut bergotong royong menjaga saluran air agar tetap berfungsi dengan baik.

Lebih dari sekadar mengairi sawah, subak juga menjadi cerminan filosofi Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai tersebut tercermin dalam setiap proses pengelolaan air yang mengutamakan keseimbangan, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Namun, tantangan yang dihadapi subak saat ini tidak ringan. Alih fungsi lahan pertanian, pembangunan yang terus berkembang, hingga perubahan pola cuaca menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan sistem pertanian tradisional tersebut. Jika lahan sawah terus berkurang dan jaringan irigasi tidak terawat, maka ketahanan pangan Bali pun berpotensi ikut terganggu.

Di sisi lain, berbagai upaya terus dilakukan untuk memperkuat keberadaan subak. Perbaikan saluran irigasi, pembangunan embung, normalisasi jaringan air, hingga edukasi kepada petani menjadi bagian dari langkah menjaga produktivitas pertanian di tengah tantangan perubahan iklim.

Subak pada akhirnya bukan hanya tentang mengalirkan air ke sawah. Di dalamnya tersimpan nilai gotong royong, kearifan lokal, serta semangat menjaga keseimbangan alam yang telah diwariskan turun-temurun. Ketika subak tetap lestari, bukan hanya hasil panen yang terjaga, tetapi juga keberlanjutan budaya dan ketahanan pangan Bali di masa depan.

Menjaga subak berarti menjaga sumber kehidupan. Sebab, di setiap tetes air yang mengalir menuju sawah, tersimpan harapan agar Bali tetap mampu memenuhi kebutuhan pangannya sekaligus mempertahankan identitas budaya yang menjadi kebanggaannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....