Fungsi Highlighter dalam Membantu Daya Ingat Otak
- 19 Jun 2026 12:44 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Bagi pelajar, mahasiswa, maupun pekerja kantoran, keberadaan alat tulis penanda berwarna terang atau yang akrab kita sebut sebagai highlighter (stabilo) adalah hal yang sangat esensial. Saat membaca buku teks yang tebal atau dokumen laporan yang panjang, coretan warna neon seperti kuning, hijau, atau merah muda langsung membantu kita menemukan poin-poin penting dalam sekejap.
Namun, tahukah Anda dari mana asal mula alat penanda ini? Dan bagaimana secara psikologis, segores warna terang di atas kertas bisa memengaruhi cara otak kita menyerap informasi?
Sebelum highlighter peninggalan modern ditemukan, orang-orang zaman dahulu harus menggunakan pensil atau pulpen biasa untuk menggarisbawahi (underline) tulisan penting. Cara ini sering kali membuat halaman buku terlihat kotor dan teks aslinya justru tertutup oleh coretan tinta hitam.
Revolusi penandaan tulisan dimulai pada tahun 1963 ketika seorang penemu bernama Dr. Frank Honn menciptakan pulpen berujung felt (serat kain) yang menggunakan tinta fluoresen transparan. Alat baru ini memungkinkan pembaca untuk "mewarnai" teks tanpa menutupi keterbacaan huruf di bawahnya.
Di Indonesia, alat tulis ini sangat identik dengan sebutan "Stabilo". Hal ini terjadi karena salah satu produsen alat tulis asal Jerman, Stabilo Boss, menjadi merek pertama yang sangat populer dan mendominasi pasar tanah air sejak dekade 1970-an, hingga namanya menjadi sebutan generik untuk semua jenis highlighter.
Secara ilmiah, alasan mengapa mata dan otak kita langsung tertuju pada tulisan yang diberi highlighter dijelaskan dalam psikologi kognitif melalui teori yang disebut Efek Von Restorff (The Von Restorff Effect) atau efek isolasi.
Teori ini menyatakan ketika seseorang dihadapkan pada sekumpulan informasi yang tampak seragam (misalnya, ratusan baris teks hitam di atas kertas putih), otak akan cenderung mengingat objek yang tampilannya paling berbeda dari yang lain. Goresan warna neon dari highlighter memberikan stimulasi visual instan kepada korteks visual otak, yang secara otomatis mengirimkan sinyal untuk beri perhatian lebih terhadap visual atau warna tersebut
Menariknya, warna kuning neon adalah warna yang paling banyak diproduksi dan digunakan di dunia. Mengapa? Karena warna kuning berada di spektrum cahaya yang paling mudah ditangkap oleh mata manusia tanpa melelahkan retina, serta tidak meninggalkan bayangan gelap saat halaman buku tersebut difotokopi.
Meskipun sangat membantu, penggunaan highlighter yang keliru justru bisa menurunkan efektivitas belajar. Para psikolog pendidikan sering mengingatkan adanya fenomena "Jebakan Highlighter". Kondisi ini terjadi ketika seseorang menandai terlalu banyak kalimat di dalam satu halaman bahkan hingga hampir seluruh halaman berwarna warni.
Menandai terlalu banyak teks justru menghilangkan Efek Von Restorff tersebut. Otak akan kembali bingung menentukan mana informasi yang benar-benar inti karena semua objek terlihat mencolok. Selain itu, aktivitas mewarnai kertas secara berlebihan sering kali menciptakan "ilusi kompetensi", di mana kita merasa sudah memahami isi buku hanya karena halamannya sudah penuh dengan warna-warni stabilo, padahal otak kita belum sempat memproses informasi tersebut secara mendalam.
Agar fungsi highlighter bekerja maksimal dalam membantu daya ingat, terapkan tiga langkah cerdas berikut:
Baca Terlebih Dahulu, Tandai Kemudian: Jangan pernah menggoreskan penanda pada pembacaan pertama. Baca satu paragraf secara utuh terlebih dahulu untuk memahami konteksnya. Setelah Anda tahu mana ide pokoknya, baru gunakan highlighter pada pembacaan kedua.
Gunakan Sistem Kode Warna: Batasi penggunaan warna dan beri fungsi yang spesifik. Misalnya, warna kuning untuk ide pokok/definisi, warna hijau untuk angka atau tanggal penting, dan warna merah muda untuk contoh kasus atau istilah asing.
Maksimal 10-15 Persen Semata: Batasi area yang diberi warna. Aturan emasnya adalah jangan menandai lebih dari 10 hingga 15 persen teks dari keseluruhan total halaman yang Anda baca.
Highlighter pada akhirnya adalah alat bantu visual yang sangat kuat jika digunakan dengan bijak. Ia bukan sekadar alat untuk mempercantik tampilan buku, melainkan sebuah jembatan psikologis yang membantu otak menyaring kebisingan teks dan langsung menangkap inti sari dari ilmu pengetahuan yang sedang kita pelajari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....