Sawah yang Hilang, Budaya yang Ikut Memudar
- 13 Jul 2026 14:40 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Hamparan sawah di Bali bukan sekadar tempat bercocok tanam. Di balik hijaunya padi yang menghampar, tersimpan sistem budaya, nilai gotong royong, hingga filosofi hidup masyarakat Bali yang diwariskan turun-temurun melalui Subak. Namun, pesatnya pembangunan dan alih fungsi lahan membuat keberadaan sawah semakin menyusut, memunculkan kekhawatiran akan ikut memudarnya warisan budaya tersebut.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Kamis, 9 Juli 2026, Analis Prasarana dan Sarana Pertanian Ahli Muda Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dice Fice Siska Ndoen, SST., M.Agb, mengatakan bahwa Subak merupakan sistem irigasi tradisional yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian sekaligus ketahanan pangan Bali. Menurutnya, keberadaan sawah tidak bisa dipisahkan dari eksistensi Subak sebagai organisasi yang mengatur distribusi air, pola tanam, hingga kebersamaan antarpetani.
| Baca juga: Pelantikan Pengurus DPW NPCI |
"Subak bukan hanya sistem pengairan, tetapi juga lembaga sosial yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Jika sawah terus berkurang, maka fungsi Subak juga akan ikut terancam," ujarnya.
Ia menjelaskan, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman maupun sektor lainnya tidak hanya berdampak pada menurunnya produksi pangan, tetapi juga mengurangi ruang hidup bagi tradisi yang selama ini berkembang di lingkungan pertanian. Berbagai aktivitas adat, gotong royong, hingga ritual yang berkaitan dengan pertanian berpotensi ikut menghilang apabila lahan sawah semakin menyusut.
Penelaah Kebijakan Teknis BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suwirta, S.Sos, menilai bahwa keberadaan sawah juga memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Menurutnya, lahan pertanian mampu membantu menyerap air hujan sehingga mengurangi risiko banjir di kawasan hilir.
"Ketika lahan pertanian berkurang, kemampuan tanah menyerap air juga ikut menurun. Dampaknya bukan hanya terhadap pertanian, tetapi juga meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi," jelasnya.
Di tengah laju pembangunan yang terus berkembang, menjaga sawah berarti menjaga identitas Bali itu sendiri. Sebab, ketika hamparan sawah perlahan menghilang, bukan hanya produksi pangan yang terancam, tetapi juga nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan filosofi kehidupan yang selama ini tumbuh bersama sistem Subak. Pelestarian sawah pun menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang masih dapat mengenal Bali sebagai pulau yang kaya akan budaya sekaligus memiliki sistem pertanian tradisional yang diakui dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....