Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah
- 07 Jun 2026 12:09 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan tingginya tuntutan pendidikan saat ini, keluarga tetap menjadi lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan sejak dini di rumah dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian, sikap, dan kemampuan anak menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 5 Juni 2026, Komisioner KPAD Provinsi Bali Bidang Pendidikan, Pengisian Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya, Ir. I Made Ariasa, M.Pd, menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah, melainkan harus berawal dari lingkungan keluarga.
Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama yang membentuk pola pikir dan perilaku anak. Melalui interaksi sehari-hari dengan orang tua, anak belajar tentang nilai kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, disiplin, hingga cara menghargai orang lain. Ketika fondasi tersebut kuat, anak akan lebih siap menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan luar, termasuk perkembangan teknologi digital yang kini semakin dekat dengan kehidupan mereka.
I Made Ariasa juga menyoroti fenomena berkurangnya ruang komunikasi dalam keluarga akibat kesibukan dan penggunaan gawai yang semakin intens. Aktivitas sederhana seperti berdiskusi, bertutur, atau mendongeng yang dahulu menjadi sarana penanaman nilai kehidupan kini mulai jarang dilakukan. Padahal, momen-momen tersebut memiliki peran besar dalam membangun kedekatan emosional sekaligus menanamkan karakter positif kepada anak.
Sementara itu, Duta Anak Provinsi Bali, Ni Putu Aira Putri Kayana menilai bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Anak juga membutuhkan ruang untuk mengembangkan keterampilan sosial, mengenali minat dan bakat, serta belajar berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi faktor penting agar anak dapat berkembang secara seimbang, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik.
Pandangan serupa disampaikan oleh Duta Anak lainnya, Kadek Silva Octricia Pratiwi, yang menekankan bahwa karakter yang kuat akan membantu anak menghadapi berbagai tekanan dan tantangan kehidupan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai rapor, tetapi juga dari kemampuan anak membangun empati, tanggung jawab, serta hubungan yang sehat dengan orang lain.
Di Bali, nilai-nilai kearifan lokal seperti asah, asih, dan asuh sesungguhnya telah lama menjadi pedoman dalam membangun hubungan harmonis di lingkungan keluarga. Nilai-nilai tersebut mengajarkan pentingnya saling membimbing, mengasihi, dan melindungi sebagai bagian dari proses pendidikan karakter yang berlangsung sepanjang kehidupan.
Pada akhirnya, pendidikan karakter bukanlah proses yang berlangsung dalam waktu singkat. Ia tumbuh melalui teladan, perhatian, dan komunikasi yang terbangun setiap hari di dalam keluarga. Dari rumah yang penuh kasih dan pemahaman, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, berakhlak, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....