Dibalik Foto Sempurna Media Sosial, Ada Perasaan Tidak Percaya Diri

  • 15 Jun 2026 14:24 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Media sosial menghadirkan ruang tanpa batas untuk berbagi cerita, pencapaian, hingga kebahagiaan. Namun di balik deretan foto yang tampak sempurna, tersimpan fenomena yang semakin sering terjadi, yakni munculnya rasa tidak percaya diri akibat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Dalam Acara Rahajeng Bali, pada Selasa, 9 Juni 2026, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, menilai media sosial membuat seseorang sangat mudah melihat keberhasilan dan kemewahan yang dimiliki orang lain. “Kita begitu mudah melihat pencapaian orang, kebahagiaan orang, bahkan kemewahan orang lain. Tidak sedikit yang kemudian membandingkan dirinya sendiri hingga muncul rasa iri,” ujarnya.

Menurutnya, rasa iri sering kali berawal dari kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial. Seseorang bisa merasa hidupnya kurang hanya karena melihat teman memiliki barang baru, usaha yang berkembang pesat, atau pencapaian tertentu yang belum berhasil diraih.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Banyak orang hanya menampilkan sisi terbaik mereka, sementara perjuangan, kesulitan, dan tantangan yang dihadapi tidak selalu terlihat di ruang digital. Akibatnya, pengguna media sosial sering terjebak pada perbandingan yang tidak seimbang.

Putu Sukma menjelaskan bahwa rasa iri bukanlah tanda seseorang tidak mampu. Sebaliknya, perasaan tersebut sering muncul karena kurangnya rasa syukur dan terlalu fokus pada keberhasilan orang lain dibandingkan melihat hal-hal baik yang sudah dimiliki sendiri. Ia mengajak masyarakat untuk mengubah sudut pandang dengan lebih menghargai perjalanan hidup masing-masing.

Di tengah derasnya arus media sosial, kemampuan mengenali diri sendiri menjadi semakin penting. Kesuksesan, menurutnya, tidak selalu diukur dari jumlah harta atau pencapaian yang dipamerkan. Merasa tenang, mampu melewati tantangan hidup, serta berguna bagi keluarga dan lingkungan sekitar juga merupakan bentuk keberhasilan yang layak disyukuri.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang tampak sempurna di layar gawai mencerminkan kenyataan. Daripada terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain, masyarakat diajak untuk lebih fokus pada proses, potensi, dan kebahagiaan yang dimiliki dalam kehidupannya sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....