Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026
- 02 Jun 2026 07:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 akan dipusatkan pada isu perubahan iklim dengan menyoroti sinyal darurat yang dikirimkan bumi kepada umat manusia serta langkah nyata yang harus diambil dunia untuk merespons krisis tersebut. Kampanye global yang digagas Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Environment Programme menekankan pentingnya aksi kolektif untuk mempercepat transisi menuju masa depan berkelanjutan.
Dilansir dari laman United nation, tema besar tahun ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang tengah berlangsung. Fokus utama diarahkan pada bagaimana negara-negara dan masyarakat global mampu mengendalikan arah perubahan tersebut secara cepat dan efektif.
Republik Azerbaijan resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang akan berlangsung pada 5 Juni 2026 di ibu kota negara, Baku. Negara di kawasan Kaukasus itu dinilai memiliki posisi strategis dalam agenda lingkungan global setelah menjadi tuan rumah COP29.
Terletak di persimpangan Timur dan Barat di sepanjang Jalur Sutra bersejarah, Azerbaijan dikenal memiliki kekayaan alam yang beragam. Negara ini berada di dua zona iklim utama, yakni subtropis dan beriklim sedang, serta memiliki delapan jenis iklim berbeda yang membentuk keanekaragaman hayati tinggi, mulai dari hutan subtropis hingga kawasan pegunungan tinggi.
Pemerintah Azerbaijan saat ini tengah mempercepat agenda pertumbuhan hijau dan energi terbarukan. Sebagai bagian dari komitmen terhadap Paris Agreement, Azerbaijan menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 40 persen pada 2035 dibandingkan tingkat emisi tahun 1990. Negara tersebut juga menargetkan pemanfaatan energi terbarukan mencapai 30 persen pada 2030.
Sejumlah proyek energi berskala besar telah dikembangkan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya Garadagh berkapasitas 230 megawatt dan Ladang Angin Khizi–Absheron berkapasitas 240 megawatt. Selain itu, proyek energi baru dengan kapasitas lebih dari 1 gigawatt saat ini masih dalam tahap pengembangan.
Di sektor perkotaan, Baku mulai menerapkan sistem transportasi rendah emisi melalui penggunaan bus modern ramah lingkungan, pengembangan infrastruktur kendaraan listrik, serta penerapan konsep kota pintar. Sementara itu, wilayah Garabagh dan Zangezur Timur diarahkan menjadi kawasan “nol emisi” melalui integrasi energi terbarukan, restorasi ekosistem, dan pembangunan pasca-konflik.
Langkah pengurangan sampah plastik juga terus diperkuat. Sejak 2019, Azerbaijan menjalankan kebijakan pembatasan penggunaan kantong plastik sekali pakai melalui reformasi regulasi yang melarang impor, produksi, hingga distribusi kantong plastik dengan ketebalan tertentu di sektor perdagangan dan layanan publik.
Sebagai tuan rumah COP29, Azerbaijan turut mendorong sejumlah keputusan penting terkait pembiayaan iklim global dan pasar karbon internasional. Negara tersebut juga menginisiasi kerja sama lintas sektor yang menghubungkan isu perubahan iklim dengan konservasi keanekaragaman hayati, transisi energi, ketahanan air, pertanian, dan dampak sosial.
Kampanye nasional Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Azerbaijan mengusung slogan “Terinspirasi oleh Alam. Untuk Iklim. Untuk Masa Depan Kita.” Melalui tema tersebut, pemerintah Azerbaijan menekankan bahwa alam merupakan fondasi utama ketahanan iklim dan keberlangsungan masa depan manusia.
Selain menjadi tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Azerbaijan juga dijadwalkan menggelar sejumlah agenda internasional penting sepanjang tahun 2026, antara lain sesi ke-13 World Urban Forum 13 bersama UN-Habitat, pertemuan informal Kepala Delegasi United Nations Framework Convention on Climate Change di Shamakhi, serta Pekan Aksi Iklim Baku UNFCCC.
Dalam aspek konservasi, Azerbaijan juga mencatat kemajuan signifikan. Lebih dari 10 persen wilayah negara kini berada dalam kawasan lindung, termasuk perluasan taman nasional dan cagar alam. Salah satu pencapaian penting adalah perlindungan Hyrcanian Forests yang telah masuk daftar Warisan Dunia UNESCO.
Hutan Hyrcanian dikenal sebagai salah satu ekosistem tertua di dunia dan menjadi habitat lebih dari 3.000 spesies tumbuhan serta berbagai satwa liar. Sementara itu, kawasan pesisir dan ekosistem Laut Kaspia juga terus dijaga melalui program konservasi di tengah ancaman penurunan permukaan air laut.
Melalui rangkaian program restorasi alam dan aksi iklim tersebut, Azerbaijan berharap dapat memperkuat kontribusinya dalam menghadapi krisis lingkungan global sekaligus menginspirasi negara-negara lain untuk mempercepat transisi menuju pembangunan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....