Mengapa Kita Tidak Perlu Berlomba dengan Jalan Hidup Orang Lain?

  • 15 Jun 2026 14:23 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Di era media sosial, membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain menjadi hal yang semakin mudah terjadi. Setiap hari, masyarakat disuguhi berbagai unggahan tentang kesuksesan, kemewahan, hingga pencapaian yang diraih orang lain. Tanpa disadari, kebiasaan ini sering memunculkan pertanyaan dalam diri, mengapa orang lain tampak lebih berhasil sementara diri sendiri merasa tertinggal.

Dalam Acara Rahajeng Bali, pada Selasa, 9 Juni 2026, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. “Kita semua ditakdirkan untuk sukses, hanya saja perjalanan dan waktunya yang berbeda,” ujarnya.

Menurutnya, membandingkan diri dengan pencapaian orang lain hanya akan membuat seseorang kehilangan fokus terhadap proses yang sedang dijalani. Ia menjelaskan, rasa iri sering muncul ketika seseorang melihat hasil akhir yang diraih orang lain tanpa memahami perjuangan yang ada di baliknya. Akibatnya, seseorang merasa hidupnya kurang berhasil hanya karena tidak memiliki pencapaian yang sama dalam waktu yang bersamaan. Padahal setiap individu memiliki tantangan, tanggung jawab, dan kondisi yang berbeda.

Dalam kehidupan sehari-hari, ukuran kesuksesan sering kali dipersempit pada kepemilikan materi, seperti rumah, kendaraan, perhiasan, atau jabatan. Padahal menurut Putu Sukma, kesuksesan tidak selalu harus diukur dari hal-hal tersebut. Mampu memenuhi kebutuhan keluarga, menyekolahkan anak, menjaga kesehatan, dan menjalani hidup dengan tenang juga merupakan bentuk keberhasilan yang patut dihargai.

Ia mencontohkan bahwa seseorang yang harus menghidupi keluarga, merawat orang tua, atau menghadapi berbagai tanggung jawab lainnya tidak bisa disamakan dengan orang yang memiliki kondisi hidup berbeda. Karena itu, membandingkan pencapaian diri dengan orang lain sering kali tidak adil bagi diri sendiri.

Lebih jauh, Putu Sukma mengajak masyarakat untuk mengubah sudut pandang terhadap kesuksesan. Daripada terus melihat apa yang dimiliki orang lain, seseorang perlu menyadari apa yang sudah berhasil dicapai dalam hidupnya. Rasa syukur menjadi kunci untuk menjaga kesehatan mental sekaligus menghindari munculnya perasaan iri yang berlebihan.

Menurutnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi lebih unggul dari orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mampu bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan dirinya di masa lalu. Dengan cara pandang tersebut, setiap orang dapat menikmati proses hidupnya sendiri tanpa terbebani oleh pencapaian orang lain.

Di tengah budaya pamer yang semakin marak di media sosial, pesan ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Kesuksesan tidak selalu datang pada saat yang sama, namun selama seseorang terus bergerak maju dan menjalani hidup dengan penuh syukur, maka ia sedang berjalan di jalur yang tepat menuju kebahagiaannya sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....