Buah atau Jus, Ini Pilihan Tepat Sehat

  • 07 Mei 2026 10:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Perdebatan antara konsumsi buah utuh dan jus buah kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya tren minuman sehat di masyarakat. Meski keduanya berasal dari bahan yang sama, para ahli gizi menegaskan bahwa cara konsumsi sangat menentukan dampaknya bagi kesehatan tubuh, terutama terkait serat, kadar gula, dan risiko penyakit metabolik.

Buah utuh mengandung serat alami yang berperan penting dalam memperlambat penyerapan gula di dalam tubuh. Serat juga membantu menjaga rasa kenyang lebih lama serta mendukung kesehatan sistem pencernaan. Namun, proses pembuatan jus—terutama jika disaring atau diolah secara industri—umumnya menghilangkan sebagian besar serat tersebut.

Menurut publikasi kesehatan dari Stanford Children’s Health, jus buah tetap mengandung vitamin dan mineral, tetapi kehilangan manfaat utama dari serat yang terdapat pada buah utuh. Kondisi ini membuat gula alami dalam buah lebih cepat diserap tubuh sehingga dapat memicu lonjakan glukosa darah.

Hal ini juga sejalan dengan temuan dalam American Journal of Clinical Nutrition, yang menyebutkan bahwa konsumsi buah utuh berhubungan dengan risiko lebih rendah terhadap diabetes tipe 2 dibandingkan konsumsi jus buah secara rutin.

Penelitian yang dikutip oleh Harvard Gazette menunjukkan bahwa konsumsi jus buah, terutama yang dikemas, dapat mengandung kadar gula tinggi tanpa disertai serat yang cukup. Dalam beberapa produk jus apel kemasan, kandungan gula bisa mencapai sekitar 20–30 gram per porsi, setara dengan beberapa sendok teh gula tambahan.

Kementerian Kesehatan RI sendiri menganjurkan batas konsumsi gula harian tidak lebih dari 50 gram atau sekitar 4–6 sendok teh per hari. Dengan demikian, satu porsi jus manis dapat menyumbang hampir seluruh batas harian tersebut.

Dalam jangka panjang, pola konsumsi tinggi gula tanpa serat dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, resistensi insulin, dan penyakit kardiovaskular.

Selain pengaruh terhadap gula darah, buah utuh juga berperan dalam pengendalian berat badan. Proses mengunyah buah memberikan sinyal kenyang lebih cepat ke otak dibandingkan minuman cair. Hal ini membantu mengurangi asupan kalori berlebih.

Sebuah kajian dalam Journal of Nutrition and Metabolism menyebutkan bahwa konsumsi buah utuh secara konsisten berkorelasi dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih sehat. Sebaliknya, konsumsi jus buah tanpa serat cenderung tidak memberikan efek kenyang yang sama, sehingga orang lebih mudah mengonsumsi kalori tambahan dari makanan lain.

Meski demikian, para ahli tidak sepenuhnya melarang konsumsi jus buah. Jus masih mengandung vitamin, antioksidan, dan fitonutrien yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, porsinya perlu dibatasi dan tidak dijadikan pengganti buah utuh.

Organisasi kesehatan dunia seperti World Health Organization juga menekankan pentingnya konsumsi buah dan sayur utuh minimal 400 gram per hari sebagai bagian dari pola makan sehat untuk mencegah penyakit tidak menular.

Berdasarkan berbagai sumber ilmiah, buah utuh tetap menjadi pilihan terbaik dibandingkan jus buah, terutama dalam hal pengendalian gula darah, asupan serat, dan pencegahan penyakit metabolik. Jus buah masih dapat dikonsumsi, namun lebih tepat sebagai pelengkap, bukan pengganti utama buah segar.

Dengan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat, para ahli mendorong perubahan kebiasaan sederhana: kembali ke bentuk alami buah untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....