Stigma Sosial terhadap Anak Pelaku dan Dampaknya
- 03 Mei 2026 21:25 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Di balik setiap kasus hukum yang melibatkan anak, ada cerita yang sering luput dari perhatian, yaitu bagaimana stigma sosial justru menjadi beban kedua setelah proses hukum itu sendiri.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Rabu 29 April 2026, perwakilan LBH Apik, Agung Maheni, menyebut bahwa isu ini merupakan tantangan serius dalam upaya perlindungan anak di Indonesia. Anak yang berhadapan dengan hukum, baik sebagai pelaku, korban, maupun saksi, sejatinya masih berada dalam fase tumbuh kembang.
Undang-Undang Perlindungan Anak pun menegaskan bahwa mereka berhak mendapatkan perlakuan khusus, termasuk perlindungan dari label negatif yang bisa melekat dalam jangka panjang. Namun dalam praktiknya, masyarakat kerap terburu-buru memberi cap “nakal” atau “kriminal” tanpa memahami latar belakang yang melingkupi.
Padahal, banyak anak pelaku justru merupakan korban dari lingkungan mereka sendiri. Pola asuh yang kurang optimal, pergaulan yang tidak sehat, hingga minimnya pengawasan menjadi faktor yang memengaruhi perilaku mereka. Dalam beberapa kasus, anak bahkan tidak sepenuhnya memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.
Stigma sosial yang terlanjur melekat bisa berdampak luas. Anak dapat kehilangan rasa percaya diri, mengalami tekanan psikologis, hingga kesulitan kembali ke lingkungan sosial seperti sekolah atau komunitas. Di era media sosial, dampak ini semakin besar karena informasi dapat menyebar dengan cepat dan terus muncul kembali, memperpanjang beban yang mereka tanggung.
Agung Maheni menekankan pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi dalam menangani anak yang berhadapan dengan hukum. Selain proses hukum, anak juga membutuhkan pendampingan psikologis dan rehabilitasi agar dapat memahami kesalahan serta memperbaiki diri. Perlindungan identitas juga menjadi langkah penting untuk mencegah stigma yang berkelanjutan.
Lebih dari itu, peran masyarakat menjadi kunci. Mengurangi stigma bukan berarti mengabaikan kesalahan, tetapi memberikan ruang bagi anak untuk belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak ini tidak hanya terhindar dari label negatif, tetapi juga memiliki kesempatan untuk kembali menata masa depan mereka.
Di tengah derasnya arus informasi dan opini publik, empati dan pemahaman menjadi hal yang semakin dibutuhkan. Sebab, di balik setiap label yang disematkan, ada masa depan anak yang dipertaruhkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....