Peduli dan Terlalu Peduli: Batas Empati dalam Kehidupan Sehari-hari
- 15 Apr 2026 11:51 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Empati sering dianggap sebagai kunci dalam membangun hubungan yang harmonis antarmanusia. Kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain membuat seseorang lebih peka, peduli, dan bijak dalam bersikap. Namun, di balik nilai positif tersebut, ada satu hal yang kerap luput disadari, yaitu empati juga memiliki batas.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang terjebak pada sikap “terlalu peduli”. Niat awal untuk membantu justru berubah menjadi ketergantungan bagi pihak yang dibantu. Bahkan, dalam beberapa situasi, kepedulian yang berlebihan dapat berdampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Badung, Ni Luh Ernawati, S.H.., M.I.Kom, menjelaskan bahwa empati bukan sekadar rasa kasihan atau keinginan untuk terus membantu tanpa pertimbangan. “Ada kalanya kita perlu bijaksana dalam menempatkan empati. Tidak semua bentuk bantuan itu tepat jika justru membuat seseorang tidak belajar dari situasinya,” ujarnya dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 7 April 2026
Fenomena ini sering terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga hingga pergaulan sosial. Misalnya, seseorang yang terus-menerus membantu tanpa batas dapat membuat orang lain menjadi bergantung dan kehilangan kemandirian. Ketika bantuan tidak lagi diberikan, justru muncul anggapan bahwa pihak yang membantu bersikap tidak peduli.
Di sisi lain, empati yang tidak diimbangi dengan kebijaksanaan juga dapat memunculkan dilema. Rasa tidak tega sering kali membuat seseorang mengabaikan prinsip atau aturan yang seharusnya ditegakkan. Padahal, dalam kondisi tertentu, sikap tegas justru diperlukan agar seseorang dapat belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
“Perlu ada keseimbangan antara rasa peduli dan ketegasan. Kadang-kadang kita memang harus ‘tega’ dalam arti yang positif, agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain,” tambah Ni Luh Ernawati.
| Baca juga: Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah |
Dalam ajaran Hindu, keseimbangan ini menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan yang selaras dengan nilai dharma. Empati tetap diperlukan, tetapi harus disertai dengan pertimbangan yang matang agar tidak melenceng dari tujuan kebaikan.
Di tengah kehidupan modern yang kompleks, menjaga batas empati menjadi tantangan tersendiri. Interaksi yang semakin luas, baik secara langsung maupun melalui media sosial, membuat seseorang lebih mudah terlibat dalam berbagai persoalan orang lain. Tanpa kontrol diri, hal ini bisa berujung pada kelelahan emosional atau bahkan konflik.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memahami bahwa peduli bukan berarti selalu harus membantu tanpa batas. Ada kalanya, bentuk kepedulian terbaik justru dengan memberi ruang bagi orang lain untuk belajar dan berkembang.
Pada akhirnya, empati yang sehat adalah empati yang disertai kebijaksanaan. Bukan hanya tentang merasakan, tetapi juga tentang memahami kapan harus membantu dan kapan harus memberi jarak. Dengan begitu, hubungan sosial dapat terjaga tanpa mengorbankan keseimbangan diri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....