Alam Berubah, Manusia Beradaptasi: Cerita di Balik Cuaca Ekstrem

  • 14 Apr 2026 09:51 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Perubahan cuaca kini bukan lagi sekadar isu global yang terasa jauh. Masyarakat mulai merasakannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Hujan yang datang tiba-tiba di luar musim, panas yang semakin menyengat, hingga banjir yang muncul tanpa diduga menjadi tanda bahwa alam tengah mengalami perubahan yang signifikan.

Dalam Dialog Rahajeng Bali pada Kamis, 9 April 2026, fenomena ini diangkat sebagai isu yang semakin relevan bagi masyarakat Bali. Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bali, Putu Suta Wijaya, menyebut bahwa perubahan iklim kini sudah terasa nyata dan berdampak langsung pada pola kehidupan masyarakat.

“Beberapa kejadian yang dulu tidak pernah kita alami, sekarang mulai terjadi. Misalnya banjir di wilayah yang sebelumnya tidak pernah terdampak. Ini menjadi bukti bahwa perubahan itu nyata,” ujarnya.

Selain itu, perubahan pola hujan juga menjadi perhatian. Jika sebelumnya musim hujan dan kemarau relatif dapat diprediksi, kini kondisi tersebut semakin sulit ditebak. Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat bahkan mampu memicu banjir di beberapa daerah.

Tidak hanya berdampak pada lingkungan, perubahan ini juga berpengaruh pada sektor sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk pertanian. Ketidakpastian cuaca membuat petani harus lebih adaptif dalam menentukan pola tanam dan jenis komoditas yang dibudidayakan.

Menghadapi kondisi tersebut, upaya mitigasi dan adaptasi menjadi kunci. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah kegiatan penanaman mangrove oleh berbagai komunitas dan relawan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi dampak perubahan lingkungan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

“Mitigasi bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti menanam pohon, termasuk mangrove. Ini upaya untuk mengembalikan kondisi alam agar lebih stabil,” jelas Putu Suta Wijaya.

Di sisi lain, adaptasi juga bisa dimulai dari hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan sumber daya, seperti menghemat air dan menjaga lingkungan sekitar. Hal ini menjadi penting mengingat ancaman krisis air juga mulai menjadi perhatian di tengah perubahan iklim.

Namun, tantangan terbesar tidak hanya terletak pada tindakan, tetapi juga pada kesadaran. Menurut Putu Suta, masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya menyadari risiko perubahan iklim, terutama di wilayah yang belum pernah mengalami bencana.

“Kalau daerahnya belum pernah terkena bencana, biasanya kesadarannya lebih lambat. Berbeda dengan masyarakat yang sudah pernah merasakan dampaknya, mereka lebih cepat tanggap,” katanya.

Dalam konteks Bali, kearifan lokal juga menjadi salah satu kekuatan dalam menghadapi perubahan alam. Konsep Tri Hita Karana yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan dinilai relevan untuk terus diterapkan dalam kehidupan modern.

Dengan kondisi alam yang terus berubah, manusia dituntut untuk tidak hanya menyadari, tetapi juga beradaptasi. Upaya kecil yang dilakukan secara bersama-sama diyakini dapat menjadi langkah besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan di masa depan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....