Daun Kucai kian Dilirik sebagai Pangan Sehat

  • 10 Apr 2026 11:33 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Daun kucai, tanaman herba dari kelompok bawang-bawangan, semakin mendapat perhatian sebagai bahan pangan serbaguna di dapur Asia. Meski tampil sederhana, sayuran ini dikenal memiliki aroma khas yang kuat serta fleksibilitas tinggi dalam berbagai jenis masakan, mulai dari tumisan hingga isian makanan tradisional.

Tanaman yang memiliki nama ilmiah Allium tuberosum ini berasal dari Asia Timur dan kini telah menyebar luas ke berbagai wilayah beriklim tropis hingga subtropis, termasuk Indonesia. Di pasar tradisional, kucai mulai mudah ditemukan dan kerap dimanfaatkan sebagai pelengkap maupun bahan utama masakan rumahan.

Dalam dunia kuliner, daun kucai dikenal memberikan sentuhan rasa gurih yang khas dengan aroma menyerupai bawang putih namun lebih lembut. Penggunaannya cukup beragam, seperti pada telur dadar, sup, mie, dim sum, hingga aneka gorengan.

Bahkan, tidak hanya daunnya, bunga kucai juga dapat dikonsumsi. Bagian ini kerap digunakan sebagai garnish, campuran salad, atau tambahan dalam tumisan ringan karena memiliki rasa manis lembut dengan aroma bawang yang halus.

Berdasarkan data komposisi pangan seperti yang tercatat dalam USDA FoodData Central, daun kucai mengandung berbagai nutrisi penting, meski dalam jumlah yang relatif moderat. Dalam setiap 100 gram, kucai mengandung energi sekitar 30 kilokalori, serat, protein nabati, serta sejumlah vitamin dan mineral seperti vitamin C, vitamin A, vitamin K, folat, kalsium, dan kalium.

Selain itu, kucai juga mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, dan senyawa sulfur organik yang berkontribusi pada aroma khasnya.

Secara umum, daun kucai tidak dikategorikan sebagai obat, namun dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Kandungan nutrisinya diyakini mendukung beberapa fungsi tubuh, seperti:

- Membantu menjaga daya tahan tubuh melalui asupan vitamin C dan antioksidan

- Mendukung kesehatan tulang berkat vitamin K dan kalsium

- Membantu menjaga fungsi jantung melalui kandungan kalium

- Mendukung sistem pencernaan karena kandungan serat

- Berperan dalam pembentukan sel melalui folat

Meski demikian, para ahli gizi menekankan pentingnya konsumsi seimbang dan tidak menjadikan satu jenis sayuran sebagai satu-satunya sumber nutrisi. Selain nilai gizinya, kucai juga populer karena kemudahan budidayanya. Tanaman ini dapat tumbuh baik di pot, polybag, maupun lahan terbuka dengan kondisi tanah gembur dan drainase baik.

Kucai membutuhkan sinar matahari sekitar 4–6 jam per hari serta penyiraman rutin tanpa genangan air. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan melalui biji, namun metode pembelahan rumpun atau anakan lebih umum digunakan karena lebih cepat menghasilkan daun siap panen.

Dalam kondisi ideal, kucai dapat dipanen berulang kali karena tanaman ini mampu tumbuh kembali setelah dipotong. Dengan kombinasi antara kemudahan budidaya, nilai gizi, dan fleksibilitas kuliner, daun kucai dinilai semakin relevan dalam mendukung tren konsumsi pangan sehat dan urban farming.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap sayuran fungsional dan tanaman pekarangan, kucai berpotensi menjadi salah satu komoditas sederhana yang memiliki nilai lebih, baik di dapur maupun di kebun rumah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....