Fenomena Kelas Favorit dan Dampaknya pada Psikologis Murid
- 28 Feb 2026 18:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Istilah “kelas favorit” masih lazim ditemui di sejumlah sekolah. Pengelompokan ini biasanya didasarkan pada nilai akademik, hasil tes masuk, atau prestasi tertentu yang membedakan satu kelas dari yang lain.
Di satu sisi, sistem tersebut dianggap mampu mendorong kompetisi dan meningkatkan capaian belajar. Namun, di sisi lain, pengelompokan siswa berdasarkan peringkat juga memunculkan dampak psikologis yang perlu diperhatikan.
Fenomena kelas favorit dapat memicu tekanan akademik, terutama bagi siswa yang merasa harus mempertahankan reputasi kelasnya. Dilansir dari UNICEF, tekanan belajar yang berlebihan berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja, termasuk meningkatkan stres dan kecemasan jika tidak diimbangi dukungan yang memadai.
Tidak hanya siswa di kelas unggulan, murid yang ditempatkan di kelas non-favorit juga berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri. Labelisasi akademik dapat membentuk persepsi bahwa kemampuan mereka lebih rendah dibanding teman sebaya.
Sejumlah kajian pendidikan menyebutkan bahwa ekspektasi guru dan lingkungan sekolah berpengaruh terhadap motivasi siswa. Ketika siswa terus-menerus diberi label tertentu, hal tersebut dapat memengaruhi cara mereka melihat potensi diri sendiri.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam berbagai kebijakannya juga menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada perkembangan individu. Pendekatan ini bertujuan agar setiap siswa mendapat kesempatan berkembang tanpa tekanan label yang berlebihan.
Dari sisi psikologis, rasa percaya diri dan dukungan sosial menjadi faktor penting dalam proses belajar. Lingkungan kelas yang kompetitif tanpa keseimbangan empati dapat memicu perasaan terasing pada sebagian murid.
Fenomena kelas favorit menunjukkan bahwa sistem pengelompokan akademik bukan sekadar persoalan administrasi sekolah. Dampaknya dapat menyentuh aspek emosional dan sosial siswa, sehingga perlu dikelola dengan pendekatan yang lebih adil dan memperhatikan kesejahteraan psikologis anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....