Bumi Bicara, Kita Mendengar: saat Alam Kirim Sinyal lewat Cuaca

  • 28 Mei 2026 13:26 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Pagi yang cerah di Denpasar sempat “mengecoh” banyak orang. Prakiraan hujan petir tak kunjung datang, sementara malah hujan.

Fenomena cuaca yang tak menentu ini bukan sekadar kebetulan, melainkan sinyal yang kian sering dirasakan belakangan ini. Hal ini menjadi sorotan dimana perubahan cuaca yang sulit diprediksi menjadi pintu masuk untuk membahas isu yang lebih besar, yaitu bagaimana sebenarnya bumi “berbicara” kepada manusia.

Founder Kawan Alam, Heni Paula, menyebut kondisi alam saat ini menunjukkan adanya krisis kepedulian. Menurutnya, bumi sudah lama memberi tanda, mulai dari suhu yang semakin panas, perubahan pola cuaca, hingga meningkatnya bencana seperti banjir.

“Masalahnya bukan karena bumi tidak memberi sinyal, tetapi sering kali manusia baru sadar ketika dampaknya sudah terasa langsung,” ujarnya.

Selain cuaca yang berubah-ubah, tanda lain juga terlihat dari persoalan lingkungan yang semakin nyata, seperti tumpukan sampah di sungai hingga penurunan kualitas lingkungan. Semua itu, menurut Heni, merupakan bentuk komunikasi alam yang sering diabaikan.

Project Director Bali Sustainability Project (BSP), Rafli Zulfiki, menjelaskan bahwa “mendengarkan bumi” tidak selalu berarti secara harfiah. Ia menilai, kepekaan terhadap perubahan ekologis dan kondisi sosial masyarakat menjadi kunci dalam memahami pesan yang disampaikan alam.

“Suara bumi itu ada setiap hari, tapi kita yang sering tidak peka,” katanya. Rafli menambahkan, tanda-tanda tersebut bisa dilihat dari berbagai indikator, mulai dari meningkatnya sampah plastik, degradasi ekosistem, hingga perubahan kondisi pesisir.

Bahkan, dampaknya juga dirasakan langsung masyarakat, baik secara lingkungan maupun ekonomi. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi dasar penting untuk bergerak bersama.

Bukan hanya memahami, tetapi juga merespons dengan tindakan nyata. Edukasi dan kolaborasi dinilai menjadi langkah strategis agar pesan dari alam tidak berhenti sebagai peringatan semata.

Di tengah dinamika kehidupan modern, mendengarkan bumi mungkin terdengar sederhana, namun membutuhkan kepekaan yang lebih dalam. Sebab, saat alam sudah “berbicara” melalui perubahan yang terjadi, pertanyaannya bukan lagi apakah kita mendengar melainkan apakah kita mau bertindak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....