Bullying Pertama Justru Datang Dari Rumah
- 06 Feb 2026 17:11 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Selama ini, bullying kerap diasosiasikan dengan lingkungan sekolah, ejekan teman sebaya, tekanan sosial atau perundungan di ruang kelas. Namun, dalam Program Acara Rahajeng Bali bertajuk “Luka yang Tak Terlihat: Kesehatan Mental Anak Korban Kekerasan” pada Jumat, 6 Februari 2026. Terungkap fakta yang lebih sunyi dan sering luput disadari: bullying pertama kerap terjadi di dalam rumah.
Komisioner KPAD Provinsi Bali, Lilik Ismunartono Santoso, menyebut bahwa keluarga seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak. Sayangnya, tanpa disadari, rumah justru bisa menjadi tempat pertama anak mengalami tekanan mental. Ucapan orang tua yang dianggap biasa, seperti label “bodoh”, “nakal”, atau perbandingan dengan anak lain dapat menjadi bentuk kekerasan verbal yang membekas dalam ingatan anak.
“Anak mungkin terlihat baik-baik saja, tapi luka mental itu diam dan tidak terlihat,” ujar Lilik. Luka semacam ini tidak selalu langsung tampak, namun dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dalam jangka panjang.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Bali, Luh Hety Vironika, menegaskan bahwa banyak anak tidak berani menyampaikan perasaannya karena takut dianggap berlebihan atau tidak dipahami. Padahal, anak sedang belajar membaca situasi, termasuk suasana hati dan respons orang tuanya. Ketika keluhan anak diabaikan, rasa aman perlahan menghilang dan dampaknya tidak hanya berhenti pada satu generasi saja.
| Baca juga: Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah |
Menurut hipnoterapis I Nyoman Sudiasa, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan berisiko mengulang pola yang sama. Korban kekerasan verbal atau emosional berpotensi menjadi pelaku bullying di lingkungan sosialnya, termasuk di sekolah. Lingkaran ini terus berputar jika tidak disadari dan diputus sejak awal.
“Bullying tidak selalu berupa pukulan, kata-kata, nada suara, dan sikap meremehkan bisa menjadi luka yang dibawa anak hingga dewasa,” jelas Sudiasa.
Para narasumber sepakat, kewaspadaan perlu dibangun tanpa jatuh pada kepanikan. Orang tua diajak lebih peka, mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, serta menciptakan ruang aman di rumah. Kesadaran bahwa bullying bisa berawal dari keluarga menjadi langkah awal untuk melindungi kesehatan mental anak.
Sebab, sebelum anak menghadapi dunia luar, rumah semestinya menjadi tempat pertama mereka merasa diterima, dihargai, dan aman, bukan tempat pertama mereka belajar tentang luka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....