Torang Samua Basudara, Filosofi Pemersatu Masyarakat Sulawesi Utara

  • 05 Mar 2024 09:04 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado : Falsafah "Torang Samua Basudara" adalah sebuah ungkapan dalam dialek Manado yang artinya "Kita Semua Bersaudara" atau "Kita Semua Adalah Saudara". Filosofi ini menekankan pentingnya kasih sayang, empati, dan kerja sama dalam membina keharmonisan dan hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat.

Dipopulerkan pertama kali oleh E.E. Mangindaan, Gubernur Sulawesi Utara periode 1995 - 2000, semboyan "Torang Samua Basudara" tidak lekang oleh waktu, bahkan setelah hampir tiga dekade semboyan ini justru makin mempererat kehidupan masyarakat Bumi Nyiur Melambai.

Berawal dari konflik agama dan etnik yang pecah di Poso, Ambon, dan Ternate. Atas kebijakan Sang Gubernur, Sulawesi Utara membuka pintu menjadi tempat pengungsian para korban konflik yang beragama Islam dan Kristen.

Toleransi yang erat antar suku di Sulawesi Utara memang telah berlangsung lama bahkan sejak zaman penjajahan. Dan Torang Samua Basudara semakin kokoh sebagai landasan hidup masyarakat Sulawesi Utara yang dibuktikan dengan sulitnya Sulut disulut konflik bernuansa SARA.

Sebagaimana Indonesia yang dihuni oleh masyarakat yang majemuk, berlatar belakang macam-macam etnis, ras, kepercayaan, dan agama, demikian juga di Sulawesi Utara. Provinsi yang beribukota Manado ini juga memiliki masyarakat dengan pluralitas yang komplit. Semua agama yang diakui di Indonesia ada di Sulawesi Utara. Hal ini bahkan dikukuhkan dengan kehadiran enam miniatur tempat ibadah yang dibuat berdekatan, berlokasi di Bukit Kasih Minahasa. Yaitu rumah ibadah bagi umat Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Ingin tahu seperti apa toleransi antar umat beragama secara konkrit tergambar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulawesi Utara? Jalan-jalanlah ke Manado pada saat Bulan Ramadhan. Masyarakat Muslim menjual takjil untuk keperluan berbuka puasa, yang berbelanja justru didominasi masyarakat yang memakai kalung salib. Atau, saat jelang Natal, di mana mayoritas masyarakat Sulawesi Utara yang beragama Kristen akan melakukan "Tradisi Kubur" (ziarah ke makam sanak keluarga), dan akan terlihat penjual-penjual bunga hidup yang dirangkai indah itu adalah mereka yang memakai jilbab. Masjid dan Gereja dengan lokasi berdekatan merupakan pemandangan umum di Manado dan tidak saling mengganggu ketika beribadah atau menggunakan pengeras suara.

Bukan hanya sampai situ, suasana silaturahmi akan sangat terlihat ketika umat Kristen merayakan Natal, pemuda-pemuda Muslim berjaga di depan gereja untuk memastikan saudara-saudaranya bisa beribadah Natal atau Misa Natal dengan aman dan damai. Demikian juga saat umat Muslim melaksanakan Sholat Ied, ada pagar betis yang dibentuk oleh pemuda-pemuda Gereja yang juga akan memastikan ibadah umat Muslim tersebut bisa berjalan baik dan khusuk. Dan setelah ibadah selesai, semua saling berjabatan tangan saling mengucapkan ucapan Selamat Hari Raya, dilanjutkan saling berkunjung ke rumah-rumah masyarakat yang merayakan hari raya.

Sulawesi Utara yang juga dikenal dengan sebutan Bumi Nyiur Melambai mampu menangkal potensi konflik bernuansa SARA dengan semboyan Torang Samua Basudara. Baku-baku bae, baku-baku sayang, yang tak lekang oleh waktu, tak pudar terlindas pergeseran jaman. Bagai minyak dan air, perbedaan dan keberagaman yang tak bisa disatukan tapi dengan mudah bisa hidup berdampingan. Indahnya kehidupan yang berlandaskan falsafah hidup "Torang Samua Basudara".

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....