Grey Art Gallery Perluas Ekosistem Seni Kontemporer

  • 04 Feb 2026 15:49 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-3, Grey Art Gallery (GREY) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem seni rupa kontemporer Indonesia melalui pengembangan ruang, program, dan platform kuratorial yang saling terhubung. Pada fase ini, GREY menghadirkan dua inisiatif penting, yakni peluncuran GREY CUBE sebagai ruang baru dalam ekosistem galeri serta penyelenggaraan Grey Award 2026 yang memasuki edisi ke-2.

Founder Grey Art Gallery, Elia Yoesman, mengatakan GREY sejak awal tidak dibangun untuk merepresentasikan satu wajah tunggal seni rupa kontemporer. Sebaliknya, GREY dirancang sebagai sebuah ekosistem berlapis yang membuka ruang bagi beragam praktik artistik, posisi estetik, dan model distribusi karya untuk saling berkelindan.

“Sebagai sebuah ekosistem, GREY tidak dibangun untuk menghadirkan satu representasi tunggal seni rupa kontemporer, melainkan sebagai struktur berlapis yang memungkinkan berbagai praktik dan posisi artistik saling terhubung,” ujar Elia Yoesman, Rabu 4 Februari 2026.


Baca Juga: Pemkot, Tak Ada Lagi Tenaga Honorer UU ASN


Ia mengutarakan, setiap ruang dan program di GREY memiliki peran, skala, dan orientasi yang berbeda, namun tetap bergerak dalam satu visi besar pengembangan seni rupa yang berkelanjutan.

Sebagai bagian dari penguatan struktur tersebut, GREY CUBE diperkenalkan sebagai simpul baru dalam ekosistem Grey Art Gallery. Ruang ini berlokasi di Jl. Dago No.169 Lantai 3, Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. GREY CUBE tidak dimaksudkan sebagai ruang yang berdiri sendiri, melainkan sebagai penguat lapisan ekosistem yang telah ada, dengan fokus kuratorial yang lebih terarah dan spesifik.

Pemilihan karya di GREY CUBE didasarkan pada praktik artistik yang telah berkembang serta relevansinya dalam lanskap seni rupa yang lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan setiap karya tampil dengan posisi artistik yang tegas, sekaligus mendukung sirkulasi, distribusi, dan apresiasi karya tanpa memutus kesinambungan dengan ruang-ruang GREY lainnya.


Baca Juga: Polres Tasikmalaya Gelar Aksi Bersih Alun-Alun Singaparna


Pada edisi pembukaannya, GREY CUBE menampilkan karya dari delapan seniman lintas generasi dan pendekatan, yakni Aryo Saloko, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Ikie Morphacio, Joko Avianto, Mujahidin Nurrahman, RE Hartanto, dan Toni Antonius. Para seniman tersebut dipertemukan dalam satu ruang tanpa upaya penyamaan gaya atau arah, sehingga setiap karya dapat hadir dengan karakter, bahasa visual, dan kekuatannya masing-masing.

Seiring dengan penguatan ruang pamer, Grey Art Gallery juga melanjutkan komitmennya melalui Grey Award 2026, sebuah pameran dan penghargaan seni rupa yang menempatkan eksplorasi, eksperimentasi, serta perumusan sikap artistik sebagai nilai utama. 

Tahun ini menjadi penyelenggaraan Grey Award edisi ke-2, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan mendorong regenerasi dan penguatan ekosistem seni rupa kontemporer Indonesia.

Mengusung tema “Monochrome as Manifesto”, Grey Award 2026 memposisikan monokrom bukan sekadar pendekatan visual, melainkan sebagai sikap konseptual. Kerangka karya dibatasi pada spektrum monokrom hitam, putih, dan gradasi abu-abu.

 Pembatasan ini tidak dimaksudkan sebagai pengekangan, melainkan sebagai medan eksplorasi yang menuntut ketajaman berpikir, ketegasan artikulasi visual, serta kepekaan terhadap struktur visual, cahaya, bayangan, tekstur, dan materialitas karya.

Antusiasme terhadap Grey Award 2026 tercermin dari jumlah partisipasi yang tinggi. Sebanyak 931 karya dikirimkan oleh 710 seniman dari berbagai wilayah di Indonesia. Seluruh karya tersebut melalui proses seleksi ketat oleh dewan juri yang terdiri dari Wiyu Wahono, Heri Pemad, dan Angga Aditya. Dari tahap awal seleksi, terpilih 65 karya dari 60 seniman untuk dipresentasikan dalam pameran Grey Award 2026.

Tahap berikutnya akan menyaring 10 finalis terbaik untuk mengikuti sesi wawancara kuratorial. Proses ini dirancang sebagai ruang dialog yang lebih mendalam mengenai praktik, gagasan, dan arah kerja masing-masing seniman. Dari tahapan tersebut, akan ditetapkan tiga seniman terbaik sebagai penerima Grey Award 2026.

Lebih dari sekadar kompetisi, Grey Award dirancang sebagai jembatan bagi seniman khususnya seniman muda untuk memasuki medan sosial seni rupa yang lebih luas. Program ini membuka akses, membangun jejaring, serta memperkenalkan praktik artistik kepada publik, kolektor, kurator, dan institusi seni, sebagai bagian dari upaya penguatan karier dan keberlanjutan praktik seni.

Pameran Grey Award 2026 dapat dikunjungi di Grey Art Gallery, Jl. Braga No. 47, Bandung. Galeri dibuka setiap hari dengan jam kunjung weekday pukul 10.00–20.00 WIB dan weekend pukul 10.00–22.00 WIB. Publik diundang untuk hadir dan mengalami secara langsung bagaimana monokrom hitam–putih dirumuskan sebagai bahasa visual, sikap artistik, sekaligus respons terhadap dinamika zamannya.

Melalui kehadiran GREY CUBE dan penyelenggaraan Grey Award 2026, Grey Art Gallery menegaskan posisinya sebagai ruang yang tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga membangun struktur, percakapan, serta peluang bagi pertumbuhan ekosistem seni rupa kontemporer Indonesia yang lebih luas dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....