Sawer Pengantin Adat Sunda Simbol Doa dan Filosofi
- 20 Jan 2026 18:34 WIB
- Waykanan
RRI.CO.ID, Way Kanan - Provinsi Jawa Barat dikenal memiliki kekayaan budaya yang sangat kental dengan nilai-nilai filosofis, salah satunya adalah tradisi Sawer Pengantin. Dalam setiap upacara pernikahan adat Sunda, prosesi nyawer merupakan momen yang paling dinantikan, baik oleh pengantin maupun para tamu undangan.
Secara etimologi, kata "Sawer" berasal dari kata panyaweran, yaitu tempat jatuhnya air hujan dari ujung atap rumah. Tradisi ini melambangkan harapan agar rejeki dan kebahagiaan turun kepada pasangan pengantin bagaikan air hujan yang memberikan kehidupan.
Nyawer bukan sekadar acara tabur koin atau hura-hura. Prosesi ini merupakan bentuk penyampaian nasihat atau pepeling dari orang tua kepada anak-anaknya yang baru saja menempuh hidup baru. Nasihat ini biasanya disampaikan melalui syair-syair tembang Sunda (Kidung) yang berisi petuah tentang cara membina rumah tangga yang harmonis, sabar, dan bertakwa.
Dalam piring besar atau wadah yang disebut bokor, terdapat berbagai benda yang masing-masing memiliki simbolisme mendalam: Uang Logam: Melambangkan kekayaan materi dan harapan agar pengantin memiliki rejeki yang cukup untuk berbagi dengan sesama (sedekah).Beras Putih: Simbol kemakmuran dan pangan. Beras juga melambangkan kesuburan. Kunyit (Irisan Kunyit): Melambangkan kejayaan dan kemuliaan. Warna kuning kunyit dianggap sebagai simbol keagungan.Permen: Melambangkan manisnya kehidupan rumah tangga. Harapannya, meskipun ada ujian, pasangan tetap bisa merasakan manisnya kebersamaan.
Bunga Setaman: Melambangkan keharuman nama baik keluarga yang harus dijaga oleh pasangan pengantin.Setelah akad nikah selesai, kedua mempelai duduk berdampingan di bawah payung atau di depan pintu rumah (panyaweran). Orang tua atau sesepuh kemudian mulai menaburkan isi bokor tersebut ke arah atas pengantin.
Saat itulah, para tamu—terutama anak-anak dan remaja—akan berebut mengambil uang logam dan permen yang jatuh. Suasana riuh dan penuh tawa dalam perebutan ini melambangkan kegembiraan masyarakat dalam menyambut kebahagiaan keluarga baru tersebut.
Tradisi Sawer mengajarkan nilai Kedermawanan. Dengan menaburkan uang dan makanan, pengantin diajarkan sejak hari pertama pernikahan bahwa sebagian dari harta yang mereka miliki adalah milik orang lain yang membutuhkan. Ini adalah latihan spiritual untuk tidak bersifat kikir dan selalu rendah hati di tengah masyarakat.
Tradisi ini terus lestari hingga kini, membuktikan bahwa nilai-nilai luhur masyarakat Sunda tetap relevan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga di era modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....