Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, Masih Ajarkan Bahasa Kromo

  • 20 Jun 2025 12:13 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang kian menggerus budaya lokal, pesantren-pesantren di Cirebon tetap teguh menjaga salah satu warisan budaya yang paling halus dan mendalam dalam kehidupan masyarakat Jawa: bahasa kromo. Bahasa kromo, yang merupakan bagian dari struktur bahasa Jawa, dikenal sebagai bentuk bahasa yang sopan dan penuh unggah-ungguh. Bahasa ini digunakan dalam situasi formal atau saat berbicara dengan orang yang lebih tua, guru, atau tokoh masyarakat. Sayangnya, penggunaan bahasa kromo kini kian langka di ruang publik maupun dalam interaksi keseharian generasi muda.

Namun, di balik tembok-tembok pondok pesantren yang tersebar di wilayah Cirebon, baik kota maupun kabupaten, tradisi ini masih hidup dan lestari. Para santri yang berasal dari berbagai latar belakang budaya diperkaya dengan pelajaran akhlak, tata krama, dan adab yang disampaikan melalui bahasa kromo, khususnya saat berinteraksi dengan para kiai dan ustaz.

Bahasa Cirebon sendiri merupakan bahasa yang dituturkan di pesisir utara Jawa Barat. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2010, bahasa Jawa Cirebon dituturkan oleh sekitar 3.086.721 jiwa penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas.

Sementara itu, bahasa Jawa Cirebon juga menduduki peringkat ke-11 bahasa yang paling banyak dituturkan oleh penduduk Indonesia setelah bahasa Jawa Baku (Surakarta-Yogyakarta), bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Melayu, bahasa Jawa Banyumasan, bahasa Madura, bahasa Batak, bahasa Minangkabau, bahasa Banjar, bahasa Bugis, dan bahasa Bali. Lebih jauh, bahasa kromo juga memperlihatkan kedalaman relasi sosial dalam budaya Jawa.

Bagi masyarakat Cirebon, keberadaan pesantren menjadi benteng terakhir dari pelestarian nilai-nilai luhur ini. Di tengah kebanyakan sekolah formal yang telah meninggalkan pengajaran bahasa daerah dan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa ‘ala Jekardah’ sehingga akhirnya mereka sering disebut sebagai Agabon (Anak Gaul Cirebon), pesantren masih menjadikannya bagian penting dari pendidikan kultural.

Gus Ahmad Nafis Hafie, sebagai salah satu dewan keluarga dan pengajar di Pesantren Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, mengatakan bahwa Pesantren Babakan Ciwaringin juga punya peran penting dalam menjaga dan mempertahankan bahasa Jawa Kromo Cirebon karena itu merupakan budaya yang harus dijaga.

“Pembelajaran bahasa Jawa Kromo itu bagus dan menjadi salah satu budaya yang harus dijaga dan dipertahankan. Dan (selain itu), juga sebagai salah satu identitas seorang santri,” ujar Gus Ahmad Nafis Hafie kepada RRI di Pesantren Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Kamis (19/6/2025) kemarin.

"Ada harapan baik dengan mempertahankan tradisi ini, di mana para santri kelak turut membawa kebiasaan ini ke luar pesantren. Santri yang telah pulang ke rumah membawa cara bertutur yang santun, menjadi agen perubahan dalam keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Mereka menghidupkan kembali dialog penuh unggah-ungguh, yang mengajarkan bahwa berbicara itu bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menunjukkan etika, salah satunya adalah menggunakan bahasa kromo kepada orang yang lebih tua, dan lain sebagainya," kata Gus Ahmad Nafis Hafie lebih lanjut menjelaskan.

Dalam konteks pelestarian budaya lokal, pesantren di Cirebon memainkan peran ganda. Selain sebagai lembaga pendidikan agama, mereka juga menjadi pusat transmisi nilai-nilai tradisional, termasuk bahasa kromo. Hal tersebut disampaikan salah satu santri sekaligus staf di Madrasah Al-Hikamussalafiyah Pesantren Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

“(Bahasa kromo adalah) sebuah kultur yang sekarang susah dicari, apalagi diterapkan melihat situasi zaman yang memang perlu kita benahi perihal akhlak para remaja. Mungkin berawal dari bahasa ini kita dapat mencetak generasi yang dapat memahami pentingnya sebuah kultur budaya dan bahasa yang dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Dengan diawali bahasa yang baik, mungkin akan terlihat perbedaan yang baik pula bagi kalangan santri, terutama adab dan tata krama,” ujar Ali Noerul Alam, salah satu staf di Madrasah Al-Hikamussalafiyah Pesantren Babakan Ciwaringin, saat diwawancarai RRI pada Kamis (16/6/2025).

Dengan demikian, di era ketika kesopanan dalam komunikasi semakin menipis dan budaya instan merajalela, pesantren di Cirebon menunjukkan bahwa warisan luhur seperti bahasa kromo masih memiliki tempat dan makna. Bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai pilar moral dan sosial yang relevan untuk masa kini dan mendatang.

(M. Fathurrahman A., STID Al-Biruni)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....