Curug Sema Gunungmanik, Pesona Air Terjun yang Menyimpan Jejak Legenda Pajajaran
- 22 Jun 2026 07:52 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan –Rimbunnya kawasan perbukitan Desa Gunungmanik, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menyimpan potensi wisata alam yang sangat memikat. Destinasi ini tidak hanya menawarkan keindahan panorama, tetapi juga kekayaan cerita sejarah dan kearifan lokal masyarakatnya.
Curug Sema, air terjun dengan ketinggian tebing mencapai 40 meter, menjadi salah satu kawasan yang mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam. Airnya yang jernih mengalir dari kawasan Gunung Tilu atau Panyaweran, kemudian membelah wilayah desa melalui Sungai Cimandala.
Bagi warga setempat, Curug Sema bukan sekadar tempat wisata. Kawasan ini dipercaya memiliki keterkaitan dengan cerita lisan masyarakat Sunda, termasuk jejak tokoh masa lampau seperti Eyang Gunung Manik.
Ketua Kelompok Tani Gandamekar II, Desa Gunungmanik, Sarmad Nurmansah, mengatakan berdasarkan cerita turun-temurun dari leluhurnya, kawasan tersebut pernah menjadi tempat pertapaan Eyang Gunung Manik. “Sejauh saya tahu dari kakek itu, Curug Sema pernah menjadi tempat Eyang Gunung Manik bertapa atau nyepi di undak atas,” ucapnya mengungkapkan.
Selain kisah tersebut, masyarakat juga mengaitkan kawasan Curug Sema dengan legenda Lutung Kasarung. Di sekitar lokasi terdapat kawasan Pasir Batang dan Gunung Cupu yang dipercaya memiliki hubungan dengan cerita Purbasari dan Purbararang.
Di bagian bawah air terjun juga terdapat Leuwi Sipataunan. Sebuah lubuk yang menurut cerita warga menjadi bagian dari perjalanan legenda para tokoh kerajaan.
Tidak hanya itu, keberadaan Liang Buta di sekitar Curug Sema turut menambah cerita mistis kawasan tersebut. Nama itu dipercaya berasal dari kisah pementasan wayang golek yang dikaitkan dengan kejadian gaib pada masa lalu.
Sementara nama “Sema” sendiri memiliki beberapa versi penafsiran. Sebagian warga menghubungkannya dengan tokoh Semar karena bentuk bebatuan di sekitar lokasi, namun ada pula yang memaknai sebagai “semah” dalam bahasa Sunda yang berarti tamu.
“Kalau semah itu artinya banyak tamu, banyak pengunjung. Intinya sekarang bagaimana tempat ini bisa dijaga,” ujar Carmad.
Menurutnya, berbagai cerita dan pantangan adat (pamali) yang berkembang di masyarakat memiliki pesan penting untuk menjaga kelestarian alam. “Pada kenyataannya kita harus jaga alam. Alam jangan dirusak,” katanya menegaskan.
Saat ini pengembangan Curug Sema masih dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Pengelola belum menerapkan tiket resmi dan masih mengandalkan donasi sukarela untuk membangun fasilitas pendukung serta akses menuju lokasi.
“Kita masih proses perintisan, belum memungut biaya. Donasi yang masuk digunakan untuk sarana dan pengembangan,” ucap mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....