Jejak Aktivitas Vulkanik, Air Panas Cilengkrang Gunung Ciremai
- 17 Jan 2026 13:27 WIB
- Cirebon
RRI. CO. ID, Kuningan - Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menyimpan beragam potensi wisata alam, salah satunya Lembah Cilengkrang yang dikenal sebagai satu-satunya objek wisata di kawasan tersebut yang memiliki sumber air panas alami. Keunikan ini dipadukan dengan tutupan tajuk hutan yang rapat serta keanekaragaman flora dan fauna, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Lembah Cilengkrang merupakan objek wisata alam yang telah dikelola oleh masyarakat sejak 2002. Berada di kawasan TNGC yang berbatasan dengan Desa Pejambon, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, lokasi ini banyak dikunjungi wisatawan dari luar daerah yang ingin merasakan suasana alam pegunungan yang masih alami.
Akses menuju Lembah Cilengkrang terbilang menantang. Pengunjung harus menempuh jalur trekking sejauh sekitar 3 kilometer dengan waktu tempuh 45 menit hingga satu jam. Jalur menanjak tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi wisatawan berusia 15 hingga 35 tahun.
| Baca juga: Tips Wisata Lebaran Aman Bersama Anak |
“Selama perjalanan, pengunjung disuguhi pemandangan hutan pinus, udara sejuk, serta suara kicauan burung yang masih sangat alami,” kata Petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNGC, Idin Abidin, saat dihubungi melalui sambungan seluler, pada Sabtu 17 Januari 2026.
Selain pemandian air panas, kawasan ini juga menyediakan area berkemah bagi pengunjung yang ingin bermalam. Namun, aktivitas berkemah tetap harus mengikuti standar konservasi kawasan taman nasional, termasuk kewajiban menjaga kebersihan dan bebas sampah.
Menurut Idin, keberadaan air panas alami di Lembah Cilengkrang tidak terlepas dari aktivitas vulkanik Gunung Ciremai yang hingga kini masih berstatus aktif, meskipun letusan terakhir tercatat terjadi pada 1937.
“Panas magma dari perut bumi terus naik ke permukaan dan secara alami memanaskan air tanah. Air panas tersebut kemudian keluar melalui celah-celah batuan dan muncul sebagai sumber air panas alami,” ujarnya.
Ia menjelaskan, fenomena ini membentuk sejumlah titik pemandian dan air terjun hangat yang kini dapat dimanfaatkan masyarakat. Berdasarkan hasil pengukuran lapangan, suhu dan tingkat keasaman air di kawasan tersebut bervariasi.
“Di Curug Sabuk suhu air tercatat 50,3 derajat Celsius dengan pH 8,88. Sementara Curug Sabuk 2 memiliki suhu 48,3 derajat Celsius dengan pH mencapai 12,4,” jelas Idin.
Titik terpanas ditemukan di Curug Sawer dengan suhu mencapai 52 derajat Celsius dan pH 11,9. Adapun Curug Sawer 2 mencatat suhu 48,3 derajat Celsius dengan pH tertinggi hingga 13,1. Sementara di kawasan Kiara Lawang, suhu air terpantau sekitar 46 derajat Celsius dengan pH 10.
“Karakteristik yang sama juga ditemukan pada sampel lumpur di setiap lokasi, baik dari sisi suhu maupun tingkat keasamannya,” tambahnya.
Keunikan fenomena geologis tersebut menjadikan Lembah Cilengkrang tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai kawasan edukasi alam yang menunjukkan hubungan erat antara aktivitas vulkanik dan ekosistem pegunungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....