Wisata Edukatif Ewako Lowita Angkat Konservasi Penyu
- 04 Sep 2025 18:32 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Sebuah transformasi besar tengah terjadi di Pantai Lowita. Dari kawasan yang dulu rawan perburuan telur penyu dan dipenuhi sampah hingga nyaris dua ton per bulan, kini pantai ini menjelma menjadi pusat konservasi yang hidup, edukatif, dan berdampak ekonomi. Program EWAKO LOWITA (Eko-Eduwisata Berbasis Konservasi Penyu Pantai Lowita) jadi motor perubahan itu.
Diluncurkan oleh Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Barru milik PLN Indonesia Power, EWAKO LOWITA menjadi contoh nyata bagaimana konservasi tak sekadar soal menjaga lingkungan, tetapi juga bisa mendorong ekonomi lokal, edukasi generasi muda, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.
Konservasi Jadi Motor Ekonomi dan Edukasi
Dengan pendekatan kolaboratif, EWAKO LOWITA mengajak pemuda, ibu rumah tangga, hingga pelaku UMKM terlibat langsung dalam pengelolaan wisata, bank sampah, serta produksi kerajinan dari limbah. Hasilnya, kelompok pengelola wisata kini mampu meraih pendapatan hingga Rp238,8 juta per tahun, dan lebih dari 6.000 telur penyu berhasil ditetaskan setiap tahunnya.
Tak hanya itu, penanaman mangrove seluas 7,43 hektar telah berhasil menyerap emisi karbon sebesar 330.810 ton CO₂, menjadikan program ini salah satu model ekonomi sirkular paling berdampak di wilayah pesisir.
Solusi Inovatif dan Berkelanjutan
Program ini juga memperkenalkan berbagai inovasi, mulai dari penggunaan FABA (Fly Ash Bottom Ash) sebagai material rumah penetasan, sistem monitoring suhu inkubator penyu, hingga pemanfaatan panel surya mini untuk menunjang fasilitas konservasi - semuanya dilakukan dengan prinsip efisiensi energi.
Selain aspek lingkungan dan ekonomi, program ini turut menyasar isu sosial. Melalui inisiatif TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), kolaborasi dengan BKKBN dijalin untuk mendukung tumbuh kembang anak di pesisir, memperkuat dimensi kesejahteraan dalam gerakan konservasi.
| Baca juga: Dari Tradisi ke Prestasi |
Dampak Nyata, Model Nasional
Hingga saat ini, EWAKO LOWITA telah menjangkau lebih dari 4.500 pengunjung per tahun, melibatkan 15 warga lokal sebagai edukator dan tim konservasi. Wisatawan pun turut terlibat dalam pembiayaan konservasi melalui tiket masuk dan donasi.
Dengan roadmap lima tahun ke depan, EWAKO LOWITA menargetkan pembangunan balai edukasi, pelaksanaan festival penyu, sertifikasi desa wisata, serta replikasi program ke pantai-pantai lain di Barru.
Konservasi yang Menyatu dengan Komunitas
“Energi bukan hanya soal listrik, tapi juga semangat perubahan. EWAKO LOWITA adalah contoh bagaimana konservasi bisa menjadi gerakan sosial, ekonomi, dan edukatif dalam satu ekosistem,” ujar Bernadus Sudarmanta, Direktur Utama PLN Indonesia Power, Kamis (4/9/2025).
Program ini juga telah menjalin kemitraan strategis dengan 2 lembaga pemerintah, 3 organisasi masyarakat sipil (CSO), 1 universitas, dan 2 sektor swasta, menciptakan ekosistem konservasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, EWAKO LOWITA siap menjadi model nasional konservasi berbasis komunitas yang menginspirasi daerah lain di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....