Eks Pabrik Gula Karangsuwung Siap Disulap Wisata Heritage

  • 31 Jul 2025 21:26 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Eks Pabrik Gula (PG) Karangsuwung yang terletak di Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon, segera dikembangkan menjadi destinasi wisata heritage. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Cirebon menetapkan kawasan bersejarah ini sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), yang akan memperkaya ragam destinasi wisata di daerah tersebut.

Kuwu Desa Karangsuwung, Arif Nurdiansyah, Kamis (31/7/2025), menyampaikan bahwa proses pengembangan saat ini tengah menunggu rampungnya penyusunan master plan penataan dan pengelolaan kawasan eks PG Karangsuwung.

“Kami masih menunggu penyusunan master plan rampung, karena itu menjadi acuan dalam menata kawasan ini sebagai tempat wisata heritage. Bangunannya ikonik dan sarat nilai sejarah, sangat potensial untuk jadi destinasi wisata unggulan,” ujar Arif.

Ia menambahkan, eks PG Karangsuwung memiliki sejarah panjang sebagai salah satu produsen gula penting di masa lalu. Kawasan ini juga menjadi saksi kedatangan berbagai etnis ke wilayah Cirebon, yang menjadikan tempat ini memiliki nilai sejarah tinggi dan relevan sebagai landmark warisan budaya.

“Eks PG Karangsuwung menyimpan jejak peradaban dan keberagaman masa lalu. Ini bisa menjadi simbol sejarah yang dirawat dan dibanggakan oleh masyarakat Karangsuwung maupun Kabupaten Cirebon secara umum,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Arif menekankan bahwa proses penataan kawasan tidak boleh mengabaikan keterlibatan dan keberadaan masyarakat setempat. Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas lokal sangat penting agar pengembangan wisata tidak menimbulkan konflik atau ketimpangan sosial.

“Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) harus diperhatikan. Mereka harus tetap dilibatkan, tapi dengan penataan yang baik agar tetap memiliki akses ekonomi. Jangan sampai keberadaan mereka tersingkir, karena mereka bagian dari denyut ekonomi lokal,” ucapnya

Dalam pengelolaannya nanti, Kuwu Arif berharap pemerintah daerah dan pihak pengelola wisata bisa memperhatikan berbagai aspek seperti desain interior, tata letak pedagang, lokasi parkir, serta kebersihan dan kenyamanan kawasan.

"Tujuannya agar wisatawan merasa nyaman, kawasan tetap bersih dan indah, serta memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat. BUMDes juga akan dilibatkan dalam pengelolaan, termasuk untuk mengembangkan kuliner khas dan pusat cinderamata,” Katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....