Tracking Ciremai, Trend Baru Anak Sekolah Zaman Now
- 07 Jul 2025 17:08 WIB
- Cirebon
KBRN, Kuningan : Gunung Ciremai kembali menjadi panggung bagi semangat muda yang mendaki bukan hanya untuk petualangan, tapi juga pembelajaran. Puluhan siswa dari SMAN 3 Kuningan yang tergabung dalam Ekstrakurikuler Candradimuka baru saja menaklukkan gunung tertinggi di Jawa Barat itu melalui jalur Palutungan, akhir pekan lalu.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari dan menjadi bagian dari program rutin pendidikan karakter yang digagas sekolah. Gunung dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut itu mereka daki bukan sekadar untuk menapaki puncak, tetapi juga untuk menumbuhkan mental tangguh, disiplin, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pembina Ekskul Candradimuka, Ichsan Nurfalach, menjelaskan bahwa pendakian ini sejalan dengan tren mendaki yang sedang tumbuh di kalangan generasi muda, khususnya pelajar. Baginya, mendaki bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga latihan hidup yang nyata.

“Kegiatan ini bukan sekadar pendakian, tapi juga bagian dari pembentukan karakter, kedisiplinan, kerja sama tim, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya saat melepas keberangkatan rombongan dari basecamp Palutungan di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Senin (7/7/2025).
Rombongan memulai pendakian pada Sabtu pagi dengan target bermalam di Pos Goa Walet, sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak pada Minggu dini hari. Di sepanjang jalur, para peserta juga melakukan aksi bersih gunung dengan memungut sampah yang ditemukan. Aksi ini menjadi wujud nyata semangat menjaga alam yang mereka bawa dari sekolah.
Salah satu peserta, M Zahran Fadlurahman, siswa kelas X, mengungkapkan rasa bangganya karena bisa mencapai puncak bersama teman-temannya. Ia mengaku lelah, tetapi semua terbayar dengan pengalaman yang berharga.
“Capeknya sih pasti, tapi senang banget bisa sampai ke puncak. Kita belajar saling bantu dan menjaga alam,” tuturnya penuh semangat.
Setelah mencapai puncak, seluruh rombongan kembali turun dengan selamat dan tiba di basecamp pada Minggu sore. Kegiatan ini ditutup dengan refleksi singkat untuk mengulas pelajaran dan pengalaman selama dua hari di alam bebas.
Palutungan merupakan satu dari lima jalur resmi pendakian Gunung Ciremai, selain Apuy, Trisakti Sadarehe, Linggarjati, dan Linggasana. Jalur ini dikenal lebih landai dan aman, sehingga menjadi favorit pendaki pemula maupun kegiatan sekolah. Selain itu, jalur Palutungan juga memiliki nilai edukatif tinggi, karena melewati kawasan konservasi hutan pinus dan zona transisi antara ekosistem bawah dan atas.
Sepanjang jalur, pendaki akan melewati delapan pos yang masing-masing berada pada ketinggian berbeda. Pos Cigowong berada di ketinggian 1.450 meter dan kerap menjadi tempat santai sebelum menapaki jalur yang lebih menanjak.
Pos Kuta dan Paguyuban Badak menjadi titik transisi sebelum mencapai Pos Arban dan Tanjakan Asoy. Di ketinggian 2.200 meter, terdapat Pos Pesanggrahan yang dilengkapi area tenda dan warung kecil.
Perjalanan berlanjut ke Pos Sanghyang Ropoh sebelum mencapai Goa Walet, titik kemah terakhir sebelum summit attack. Dari Goa Walet, jalur Palutungan akan bersinggungan dengan jalur Apuy sebelum akhirnya tiba di puncak.
Rata-rata waktu tempuh jalur Palutungan menuju puncak adalah sekitar sembilan jam, tergantung pada cuaca dan kondisi fisik pendaki.
Kegiatan ini tidak hanya meninggalkan jejak kaki di jalur pendakian, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting dalam diri para siswa. Pendakian menjadi ruang belajar yang luas, di mana alam berperan sebagai guru kehidupan.
Ichsan berharap, pengalaman ini menjadi bekal berharga dalam membentuk generasi muda yang kuat, peduli, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....