Sering Bilang 'Izin' & 'Maaf Mengganggu'? Ini Makna Psikologis di Baliknya

  • 09 Jun 2026 09:55 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Pernahkah Anda bertemu dengan rekan kerja atau seseorang yang setiap kali ingin memulai percakapan selalu mengawalinya dengan kalimat “Izin...”, “Mohon maaf mengganggu...”, atau “Maaf sebelumnya...”? untuk sebuah pertemanan yang akrab, seringkali kalimat ini cukup mengganggu karena bisa mengurangi keaBACAkraban, namun dalam kondisi yang lain kalimat - kalimat ini mungkin menjadi standart kesopanan bagi sebagian orang

Di era komunikasi digital yang serba cepat seperti saat ini, fenomena kebiasaan verbal tersebut sangat sering dijumpai, baik dalam pesan singkat maupun percakapan langsung.

Bukan sekadar basa-basi, para ahli komunikasi dan psikologi menilai kebiasaan ini mencerminkan beberapa aspek kepribadian, budaya kerja, hingga kondisi psikologis tertentu dari pelakunya.

Berikut adalah beberapa makna di balik sikap seseorang yang selalu mengawali tindakan dengan kata izin dan maaf:

Dalam kajian sosiolinguistik, penggunaan kata "maaf mengganggu" merupakan bentuk dari Negative Politeness Strategy. Istilah 'negatif' di sini bukan berarti buruk, melainkan sebuah strategi bahasa untuk menghormati otonom, waktu, dan ruang pribadi orang lain. Pelaku sadar bahwa orang yang ditemuinya memiliki kesibukan, sehingga kalimat tersebut digunakan sebagai peredam agar kehadirannya tidak terkesan menginterupsi secara kasar.

Kebiasaan ini sering kali lahir dari lingkungan yang memiliki struktur birokrasi atau hierarki yang kuat—seperti instansi pemerintahan, militer, hingga lembaga media konvensional. Di lingkungan kerja seperti ini, kata “izin” sudah menjadi standar operasional prosedur (SOP) tidak tertulis. Akibatnya, perilaku ini terbawa menjadi refleks profesional sebagai bentuk penghormatan kepada senior, atasan, atau mitra kerja.

Orang yang terbiasa mengucapkan kalimat ini umumnya memiliki radar emosi yang peka terhadap lingkungan sekitar (highly empathetic). Sebelum menghubungi seseorang, mereka biasanya akan menimbang-nimbang terlebih dahulu kondisi psikologis orang tersebut. Frasa "maaf mengganggu" adalah bentuk nyata dari kepedulian mereka terhadap kenyamanan waktu orang lain.

Namun, dari sudut pandang psikologi klinis, jika kebiasaan ini dilakukan secara berlebihan—bahkan untuk urusan yang sangat sepele atau di forum yang setara—hal ini bisa menjadi indikasi adanya kecemasan sosial. Ada ketakutan mendalam akan penolakan, konflik, atau penilaian negatif dari orang lain, sehingga kalimat maaf digunakan sebagai tameng atau mekanisme pertahanan diri agar posisinya selalu aman.

Meski menunjukkan tata krama dan respek yang tinggi, penggunaan kata "izin" dan "maaf" yang terlalu sering dalam komunikasi profesional dinilai memiliki dua sisi mata uang.

Di satu sisi, hal ini membangun suasana kerja yang saling menghormati dan santun. Namun di sisi lain, jika digunakan secara tidak tepat, kebiasaan ini dapat mengurangi kesan asertif dan membuat seseorang terlihat kurang percaya diri di hadapan kolega atau bawahannya.

Para ahli menyarankan pentingnya menempatkan kalimat-kalimat tersebut secara proporsional sesuai dengan konteks situasi, lawan bicara, dan urgensi pembahasan

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....