Jawi-Pegon: antara Tradisi dan Identitas
- 11 Mei 2026 09:57 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Masyarakat kita merupakan bangsa yang kaya akan warisan budaya dan karunia alam. Warisan tersebut bukan hanya berupa benda yang kasat mata dan dapat disentuh, melainkan juga nilai-nilai yang mencerminkan tradisi serta identitas suatu masyarakat.
Salah satu warisan yang menarik untuk dibahas ialah tradisi menulis aksara Arab dari kanan ke kiri dengan fonem bahasa lokal, seperti Sunda, Jawa, Madura, maupun Melayu yang dikenal dengan istilah aksara Jawi-Pegon. Tradisi ini telah menjadi identitas khas yang mengakar kuat di sebagian besar wilayah Nusantara, meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Ditinjau dari sejarahnya, aksara Jawi telah digunakan sejak awal abad ke-13 ketika kerajaan Islam mulai berkembang di Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Kalimantan. Sementara itu, aksara Pegon berkembang di wilayah pesisir Jawa dan Madura sebagai media penulisan masyarakat muslim setempat.
Istilah Jawi memiliki makna luas dan tidak hanya merujuk pada masyarakat di wilayah tertentu. Dahulu, para pendatang Arab menggunakan istilah tersebut untuk menyebut penduduk maritim di Asia Tenggara secara keseluruhan, termasuk Indonesia.
Adapun Pegon secara bahasa berarti “menyimpang” atau “nyeleneh” karena bentuknya berbeda dari tata bahasa Arab pada umumnya. Perbedaan itu tampak dari jumlah huruf maupun penggunaan titik yang disesuaikan dengan bunyi bahasa lokal.
Inilah yang membuat aksara Jawi dan Pegon berbeda dari tulisan Arab biasa. Tulisan tersebut hanya dapat dibaca dan dipahami oleh masyarakat setempat sehingga memiliki identitas istimewa sebagai warisan Islam Nusantara.
Seiring perkembangan zaman, pelestarian tulisan ini mulai terabaikan dalam ruang pendidikan dan budaya di berbagai wilayah Nusantara. Bahkan di ruang publik pun jarang ditemukan papan nama atau billboard yang menampilkan aksara Jawi maupun Pegon.
Kondisi tersebut membuat generasi muda menjadi asing bahkan enggan mempelajarinya. Padahal, peran tulisan ini dalam membentuk Nusantara sebagai bangsa yang intelektual dan mandiri sangatlah besar.
Pada masa lalu, tulisan Jawi dan Pegon tidak hanya digunakan untuk menyampaikan pesan keagamaan. Para raja juga memanfaatkannya dalam administrasi pemerintahan dan diplomasi dengan kerajaan lain untuk menyepakati berbagai aturan penting.
Dalam dunia sastra, banyak ulama dan sastrawan menggunakan aksara Jawi untuk mengabadikan karya-karya mereka. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya Raja Ali Haji, Nuruddin Ar-Raniri, Abdussamad Al-Palimbani, Syekh Daud Al-Fattani, dan Nawawi Al-Bantani.
Sementara itu, aksara Pegon dengan dialek Jawa telah lama digunakan para wali dan ulama dalam membendung pengaruh penjajahan. Selain itu, tulisan ini juga menjadi media pengajaran Islam di tanah Jawa pada masanya.
Tokoh seperti Sunan Gunung Jati atau Pangeran Syarif Hidayatullah, KH Ahmad Rifai Kalisalak, KH Soleh Darat, dan KH Hasan Mustofa Garut memiliki peran penting dalam mentradisikan tulisan Pegon. Mereka menjadikan aksara tersebut sebagai sarana dakwah sekaligus penguatan identitas masyarakat lokal.
Raja Ali Haji merupakan tokoh spiritual asal Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, yang hidup pada awal abad ke-19. Beliau tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga penasihat raja-raja Melayu di Kesultanan Riau-Lingga.
Salah satu karya terbaik beliau ialah Gurindam Dua Belas yang berisi petuah serta respons terhadap konflik internal kesultanan. Penggunaan aksara Jawi dalam karya tersebut menjadi bagian penting dalam membangun identitas pribumi di tengah pengaruh kolonialisme.
Pesan dalam gurindam itu sangat mendalam karena merangkum nilai sosial, moral, dan agama. Salah satu kutipannya berbunyi, “Dengan bapa jangan durhaka, supaya Allah tidak murka, dengan ibu hendaklah hormat supaya badan dapat selamat.”
Dalam aspek keagamaan, terdapat pula amanat yang berbunyi, “Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.” Selain Gurindam Dua Belas, karya Raja Ali Haji lainnya ialah Tuhfatun Nafis, Bustanul Katibin, dan Syair Sultan Abdul Muluk.
Di Aceh, kita mengenal sosok ulama besar bernama Nuruddin Ar-Raniri sebagai penyebar Islam di Tanah Rencong. Beliau memiliki garis keturunan Ranir, India, dan datang ke Nusantara melalui jalur perdagangan pada masa imperialisme global.
Metode dakwahnya yang menarik dan kharismatik membuat masyarakat mudah menerima ajaran Islam. Salah satu faktor yang memudahkan penyebaran dakwah tersebut ialah penggunaan aksara Jawi dalam karya-karyanya, seperti Bustanus Salatin.
Melalui tulisan tersebut, ajaran Islam menjadi lebih mudah dipahami masyarakat. Dari nama besar beliau pula, lahir inspirasi penamaan UIN Ar-Raniry sebagai salah satu perguruan tinggi Islam ternama di Indonesia.
Sejak awal abad ke-18, tercatat pula sosok ulama besar dari Palembang bernama Syekh Abdussamad Al-Palimbani. Beliau dikenal gigih melawan penjajahan di wilayah Jawi-Melayu.
Masa mudanya dihabiskan untuk belajar di Makkah dan Madinah atas arahan ayahnya, Syekh Abdul Jalil, yang berasal dari Kedah. Setelah kembali dari Tanah Arab, beliau aktif mencerahkan umat melalui karya-karyanya seperti Siyarus Salikin dan Hidayatus Salikin.
Inti pemikiran beliau menekankan pentingnya menjaga identitas sebagai bumiputra dan mempertahankan tanah air dari pendudukan asing. Hal tersebut juga terlihat dari perjuangannya melawan Belanda dan penolakannya terhadap dominasi Kerajaan Siam atas Kesultanan Pattani.
Syekh Abdussamad Al-Palimbani juga dikenal sebagai sahabat Syekh Daud Al-Fattani ketika menuntut ilmu di Jazirah Arab. Hubungan intelektual tersebut memperkuat tradisi keilmuan Islam Melayu di kawasan Asia Tenggara.
Peran Pegon sebagai media penyampaian pesan moral dan semangat kebangsaan sangat kuat dalam membangkitkan kesadaran masyarakat. KH Ahmad Rifai menyalurkan gagasannya melalui karya Tarojumah yang menjadi fondasi intelektual masyarakat Jawa dalam memahami Islam dan menghadapi pengaruh Barat.
Menariknya, karya tersebut ditulis menggunakan aksara Pegon agar hanya dipahami oleh masyarakat pribumi dan tidak mudah dimengerti oleh pihak kolonial. Dari sinilah gerakan intelektual para ulama berkembang dan menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya identitas budaya.
Hal serupa juga terjadi di Semarang melalui karya KH Soleh Darat berjudul Majmu’atu Syariah al-Kafiyat lil Awam. Kitab yang ditulis dengan huruf Pegon itu menggambarkan keprihatinan beliau terhadap kondisi sosial masyarakat terjajah sekaligus upaya membentengi umat melalui pemahaman syariat.
Di tanah Sunda, KH Hasan Mustofa Garut turut berperan dalam melestarikan Pegon Sunda melalui karya Kasfu Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir. Tulisan tersebut dibuat ketika beliau dipercaya menjadi penghulu besar di Aceh untuk menggambarkan tradisi dan budaya masyarakat setempat.
Penulis sendiri masih mengingat suasana belajar aksara ini ketika kecil di surau. Nuansa tersebut kini mulai jarang ditemukan di era modern.
Metode pengajarannya sangat unik karena ayat Al-Qur’an dan hadis disertai penjelasan ulama menggunakan bahasa daerah, tetapi tetap memakai huruf hijaiyah. Selain itu, kitab yang digunakan masih berupa kertas kuning klasik yang menambah kekhasan pembelajaran tersebut.
Keunikan itu membuat anak-anak tertarik belajar karena bukan hanya isi materinya yang menarik, tetapi juga cara membaca aksaranya yang menantang dan menyenangkan. Pembelajaran kitab kuning seperti ini umumnya hanya ditemukan di tajug dan pesantren salafiyah, bukan di sekolah formal.
Kondisi tersebut menambah kesenjangan dalam pelestarian aksara Jawi dan Pegon sebagai identitas nasional. Kurangnya perhatian pemerintah membuat masyarakat menganggap tradisi ini hanya milik kalangan pesantren dan umat Islam semata.
Padahal, beberapa negara tetangga justru memberi perhatian besar terhadap pelestarian tulisan tersebut. Malaysia, misalnya, masih mempertahankan aksara Jawi hingga dapat ditemukan pada mata uang ringgit dan berbagai papan nama fasilitas umum.
Jika berkunjung ke negeri tersebut, kita akan menemukan banyak kedai, kantor, dan fasilitas publik yang menggunakan tulisan Jawi. Sementara itu, wilayah Thailand Selatan seperti Pattani, Narathiwat, Yala, dan Songkhla masih mempertahankan tradisi ini di pesantren dan sekolah Melayu.
Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu bertransformasi tanpa meninggalkan identitas dan tradisinya. Aksara Jawi dan Pegon bukan sekadar tulisan, melainkan simbol perjalanan sejarah, budaya, dan peradaban Islam Nusantara.

Penulis:
M. Sophy A.A., Lc., M.H.Sc.
Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....