Manfaat Reaktivasi Jalur KA Kedungjati–Tuntang untuk Ekonomi Jateng

  • 27 Apr 2026 18:05 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyiapkan langkah strategis untuk mereaktivasi jalur KA Kedungjati–Tuntang sepanjang sekitar 30 kilometer. Program ini diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Jalur kereta api Kedungjati–Tuntang memiliki nilai sejarah penting dalam perkembangan transportasi di Jawa Tengah. Jalur ini dahulu menjadi penghubung Semarang–Ambarawa yang vital bagi mobilitas dan distribusi barang.

Pada masa Hindia Belanda, jalur ini dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Infrastruktur tersebut digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan dan kehutanan dari pedalaman Jawa Tengah.

Salah satu titik penting lintasan ini adalah Stasiun Ambarawa yang kini menjadi Museum Kereta Api Ambarawa. Kawasan ini juga berkaitan dengan Benteng Willem I yang memiliki nilai sejarah militer kolonial.

Pembangunan jalur ini menembus perbukitan, hutan jati, serta wilayah lembah dengan jembatan tinggi. Kondisi geografis tersebut menjadikan jalur Kedungjati–Tuntang sebagai karya teknik yang cukup kompleks pada masanya.

Layanan kereta api di lintas ini resmi dihentikan pada tahun 1976. Penurunan jumlah penumpang, biaya perawatan tinggi, dan persaingan dengan transportasi darat menjadi faktor utama penghentian.

Upaya reaktivasi sempat dilakukan pada periode 2013 hingga 2015 oleh pemerintah. Namun, proyek tersebut terhenti karena kendala teknis dan keterbatasan anggaran.

Jika kembali diaktifkan, jalur ini berpotensi besar mendorong sektor pariwisata di Jawa Tengah. Wisatawan dapat lebih mudah mengakses destinasi seperti Rawa Pening, Candi Gedong Songo, dan Museum Ambarawa.

Reaktivasi ini juga akan memperkuat konektivitas jalur melingkar Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Sistem transportasi yang lebih terintegrasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi mobilitas masyarakat.

Selain itu, jalur ini dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di ruas Semarang–Bawen yang dikenal rawan kemacetan. Kehadiran kereta komuter menjadi alternatif transportasi yang lebih aman dan efisien.

Dari sisi ekonomi, reaktivasi jalur ini dapat menghidupkan kembali stasiun-stasiun yang sudah lama tidak beroperasi. Dampaknya akan mendorong pertumbuhan usaha lokal seperti transportasi, kuliner, dan penginapan.

Menurut Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, reaktivasi ini memiliki nilai strategis. Selain menjaga aset sejarah, jalur ini juga dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi wilayah secara berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....