Reaktivasi Kedungjati–Tuntang Dongkrak Ekonomi

  • 23 Apr 2026 15:44 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - PT Kereta Api Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis untuk mereaktivasi jalur KA Kedungjati–Tuntang sepanjang 30 kilometer. Langkah ini diyakini membuka potensi ekonomi baru bagi masyarakat Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Jalur Kedungjati–Tuntang menyimpan kisah legendaris sekaligus tragis dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Kini, jejak sejarahnya masih terasa melalui layanan kereta wisata rute Tuntang hingga Bedono.

Jalur menuju Ambarawa merupakan percabangan dari lintas utama Stasiun Semarang menuju Vorstenlanden, yakni Surakarta dan Yogyakarta. Percabangan tersebut berada di Stasiun Kedungjati setelah Stasiun Tanggung, Grobogan.

Mengutip Kompas (1 Maret 2014), Stasiun Ambarawa ditetapkan sebagai Museum Kereta Api Ambarawa sejak 6 Oktober 1976. Pada era Hindia Belanda, stasiun ini menjadi bagian penting jalur awal perkeretaapian.

Stasiun Willem I mulai dioperasikan pada 21 Mei 1873 untuk lintas Semarang–Kedungjati–Ambarawa. Nama tersebut diambil dari Benteng Willem I yang dibangun pada 1834–1845 dan dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendem.

Jalur ini dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) untuk menghubungkan pelabuhan Semarang dengan pusat militer di Ambarawa. Jalur tersebut juga mendukung distribusi komoditas seperti kayu jati, kopi, dan gula dari pedalaman Jawa Tengah.

Pascaperang Diponegoro (1825–1830), Ambarawa menjadi titik pertahanan strategis yang mendorong pembangunan rel secara masif. Namun, Kota Salatiga sempat terisolasi dari jaringan rel karena kendala geografis.

Rute ini menawarkan panorama perbukitan, hutan jati, serta jembatan tinggi di atas sungai dan lembah. Meski indah, pembangunan jalur ini menuntut kemampuan teknis tinggi.

Layanan reguler jalur ini berhenti pada 1976 akibat kalah bersaing dengan moda jalan raya. Kondisi prasarana yang menua serta biaya perawatan tinggi turut mempercepat penutupan.

Upaya reaktivasi sempat dilakukan pada 2013–2015 oleh Kementerian Perhubungan. Namun, progres fisik baru mencapai pemasangan rel sepanjang 1,2 kilometer dari Stasiun Kedungjati.

Reaktivasi ini bertujuan menghidupkan pariwisata menuju Museum Kereta Api Ambarawa dan Benteng Pendem. Jalur ini juga mempermudah akses ke destinasi seperti Candi Gedong Songo, Rawa Pening, dan Gunung Ungaran.

Saat ini, sebagian infrastruktur terbengkalai dan tertutup semak belukar. Jika diaktifkan kembali, jalur ini berpotensi mengubah Stasiun Tuntang menjadi titik keberangkatan kereta jarak jauh.

Kembalinya jalur Kedungjati–Tuntang diyakini memicu pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Jawa Tengah. Jalur ini juga menyempurnakan konektivitas Semarang, Yogyakarta, dan Solo dalam sistem loop line.

Selain itu, jalur ini dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di ruas Ungaran–Bawen. Kereta komuter juga menjadi alternatif aman untuk menekan risiko kecelakaan di jalur tersebut.

Reaktivasi turut membuka peluang ekonomi baru di sekitar stasiun seperti Bringin dan Gogodalem. Upaya ini juga penting untuk menjaga aset negara serta melestarikan warisan jalur kereta api tertua di Indonesia.

Sudut pandang ditulis oleh: Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....