Menggugat Paradigma Kesuksesan Mudik Lebaran

  • 11 Mar 2026 08:25 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID,Cirebon - Wajah mudik Indonesia mengalami transformasi besar seiring pesatnya pembangunan jalan tol. Namun di balik kelancaran infrastruktur tersebut, muncul tantangan baru dalam mendefinisikan arti kesuksesan mudik yang sebenarnya.

Survei Angkutan Lebaran 2026 yang dilakukan Kementerian Perhubungan bersama BPS, Kemenkomdigi, dan LAPI ITB memprediksi 143,9 juta orang akan melakukan perjalanan mudik. Angka ini menunjukkan mobilitas masyarakat yang sangat besar setiap musim Lebaran.

Mayoritas pemudik masih mengandalkan kendaraan pribadi dengan persentase mencapai 69,72 persen atau sekitar 100,32 juta orang. Mobil pribadi mendominasi sebesar 52,98 persen, sedangkan sepeda motor mencapai 16,74 persen.

Untuk transportasi umum, bus menjadi pilihan terbesar dengan 16,22 persen atau sekitar 23,34 juta penumpang. Moda lain yang digunakan adalah kapal penyeberangan, pesawat, kereta api antarkota, kereta perkotaan, kapal laut, hingga kereta cepat dengan persentase yang lebih kecil.

Selama ini, kesuksesan mudik Lebaran sering diukur dari tingkat kenyamanan, keamanan, dan keselamatan pengguna jalan. Parameter tersebut dinilai semakin baik karena angka kecelakaan juga terus menurun.

Sejak tersambungnya Tol Trans Jawa dari Jakarta hingga Surabaya, arus mudik menjadi lebih lancar. Rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way juga terbukti membantu mengurai kepadatan kendaraan.

Peristiwa pemudik yang harus bermalam di jalan akibat kemacetan parah kini jarang terjadi. Meski lonjakan volume kendaraan masih tinggi, arus lalu lintas relatif tetap bergerak dan lebih terkendali.

Menyambut Mudik Lebaran 2026, pemerintah menyiagakan enam ruas tol fungsional baru. Empat ruas berada di Pulau Jawa dan dua ruas lainnya di Sumatera untuk membantu mengurai kepadatan arus mudik.

Jalur tol memberikan perjalanan yang lebih cepat karena minim hambatan samping. Pemudik tidak lagi berhadapan dengan pasar tumpah, lalu lintas lokal, maupun kendaraan tradisional di jalur utama.

Namun, indikator keberhasilan mudik seharusnya tidak hanya dilihat dari kelancaran lalu lintas. Ukuran baru perlu menilai seberapa besar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Tingginya penggunaan kendaraan pribadi dipengaruhi keterbatasan layanan transportasi umum di daerah tujuan. Tanpa konektivitas last mile yang memadai, pemudik merasa kendaraan pribadi adalah pilihan paling praktis.

Kondisi tersebut membuat mobil dan sepeda motor tetap menjadi andalan untuk mobilitas di kampung halaman. Akibatnya, ketergantungan pada kendaraan pribadi masih sangat tinggi setiap musim mudik.

Survei kepuasan pemudik juga perlu ditinjau ulang karena berpotensi menghasilkan angka kepuasan yang semu. Kelancaran jalan tol kini telah menjadi standar minimum sehingga tidak mencerminkan kualitas integrasi transportasi massal.

Saat ini baru 42 pemerintah daerah yang mengalokasikan APBD untuk layanan angkutan umum. Jumlah itu hanya sekitar delapan persen dari total 514 pemerintah daerah di Indonesia.

Keberhasilan memindahkan pemudik ke transportasi umum sangat bergantung pada pembenahan layanan transportasi di daerah. Selama mobilitas di daerah tujuan masih sulit tanpa kendaraan pribadi, penggunaan mobil dan sepeda motor akan tetap tinggi.

Sudut Pandang ditulis:

Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Rekomendasi Berita