KA Cut Meutia, Harapan Transportasi Terjangkau di Aceh

  • 14 Okt 2025 19:05 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Kehadiran Kereta Api (KA) Cut Meutia di Provinsi Aceh menjadi simbol harapan untuk mengembalikan kejayaan transportasi rel di Tanah Rencong. Meskipun jalurnya masih pendek, peran KA perintis ini sangat penting dalam menyediakan moda transportasi aman, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Sejarah perkeretaapian di Aceh dimulai sejak 1876 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan militer. Jalur ini terus berkembang hingga mencapai panjang total 502 kilometer dan sempat menjadi tulang punggung angkutan ekonomi serta mobilitas masyarakat. Namun, akibat kerusakan infrastruktur dan menurunnya minat, operasional kereta api di Aceh resmi dihentikan pada tahun 1982.

Reaktivasi jalur dilakukan melalui pengoperasian KA Cut Meutia yang membentang dari Lhokseumawe ke Bireuen sejauh 46,35 km. Saat ini, jalur yang beroperasi baru mencapai 21,45 km dari Krueng Geukueh hingga Kutablang. Pengoperasian ini dilakukan oleh PT KAI Divre I Sumatera Utara atas penugasan Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan.

Selama Januari hingga Agustus 2025, KA Cut Meutia telah melayani 30.527 penumpang dengan tarif Rp 2.000 per perjalanan. Kereta ini beroperasi delapan kali setiap hari dengan waktu tempuh sekitar 64 menit sekali jalan. Namun, tingkat keterisian masih rendah, rata-rata hanya 11 persen, yang menunjukkan perlunya strategi promosi dan peningkatan kenyamanan layanan.

Salah satu kendala utama adalah fasilitas yang masih terbatas, seperti belum tersedianya pendingin udara (AC) dan tidak adanya unit cadangan jika kereta rusak. Jalur tambahan sepanjang delapan kilometer dari Stasiun Krueng Geukueh ke Muara Satu juga belum beroperasi meskipun pembangunannya telah dimulai sejak 2023. Keterlambatan ini berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap program reaktivasi.

Masalah lain adalah keamanan infrastruktur, di mana beberapa instalasi di perlintasan sebidang kerap hilang akibat pencurian. Selain itu, masyarakat belum melihat KA Cut Meutia sebagai moda transportasi utama karena jarak tempuh yang masih terbatas. Akibatnya, kereta ini lebih sering dimanfaatkan untuk rekreasi daripada transportasi antarwilayah.

Pemerintah perlu segera menuntaskan konektivitas jalur Lhokseumawe–Bireuen serta memperkuat pendanaan untuk pengembangan rel Trans-Sumatera. Dengan komitmen serius, KA Cut Meutia dapat menjadi fondasi bagi kebangkitan transportasi massal di Aceh dan wujud nyata pemerataan pembangunan berbasis konektivitas antardaerah.

Penulis: Djoko Setijowarno – Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah MTI Pusat

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....