Batik Mega Mendung; Warisan Kebanggaan Warga Caruban

  • 07 Agt 2025 22:51 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Nusantara hadir dengan sentuhan tradisi yang tak pudar, membumi meskipun zaman silih berganti. Patutlah kita syukuri karunia agung ini yang dianugerahkan kepada kita sebagai warisan yang tak ternilai.

Di antara warisan berharga yang Allah anugerahkan kepada kita adalah batik. Dalam jurnalnya, Komarudin Kudiya menerangkan bahwa istilah batik berasal dari bahasa Jawa yang tersusun atas dua kata, yaitu amba yang berarti luas dan tik yang bermakna sambungan titik.

Keduanya memberikan pengertian bahwa batik adalah kegiatan membuat pola titik yang luas dan terhubung untuk membentuk suatu gambar yang sarat akan makna. Apabila dikaitkan dengan tradisi masa lalu, hal serupa sudah dijalani oleh masyarakat Timur Tengah yang terbiasa membuat karya lukisan dengan menyusun kepingan keramik untuk membentuk gambar yang epik, sehingga memberikan kesan eksotis tersendiri yang kemudian dinamakan mozaik.

Membatik sudah mendarah daging dalam tradisi masyarakat kita, terkhusus di Pulau Jawa, sebagai ekspresi penyampaian pesan tertentu melalui gambar yang dibentuk dalam sehelai kain. Dalam prosesnya, beragam cara dilakukan: ada yang menggunakan canting untuk melukiskan motif pada kain dengan cairan lilin, dan ada juga yang menggunakan cap bermotif sehingga prosesnya pun cenderung lebih cepat dan mudah.

Lain halnya dengan kain lain seperti songket yang tersohor di Malaysia dan dipakai hanya untuk acara pernikahan dan kenegaraan, kain batik digunakan bahkan dalam aktivitas keseharian kita. Tak asing lagi dalam prosesi siraman, syukuran kehamilan, bahkan kain yang digunakan untuk menutupi jenazah pertama kali sebelum dibungkus kain kafan adalah samping batik.

Di masa pendudukan Belanda, batik bukan hanya kreasi seni semata, tetapi juga sebagai perlambang wujud intelektualitas rakyat terhadap asumsi buruk penjajah yang mencitrakan warga Nusantara sebagai bangsa yang bodoh secara literasi. Dalam tulisannya, Dr. Azhar Ibrahim selaku pengamat sejarah Melayu bahkan mengisahkan tentang R.A. Kartini yang begitu perhatian terhadap warisan batik sebagai tradisi asli warga pribumi.

Kartini bahkan sempat menulis naskah berjudul Handschrift Japara dalam bahasa Belanda yang isinya menceritakan keterikatan rakyat lokal dengan seni, khususnya batik. Terlebih, batik merupakan simbol pemberdayaan masyarakat terhadap kesejahteraan ekonomi mereka agar lebih mandiri dan unggul dibanding produk luar.

Dulu Sarekat Dagang Islam menjadikan batik sebagai produk kebanggaan yang diperjualbelikan sebagai komoditas utama pengganti kain linen dari Eropa.

Motif dan corak batik sangatlah beragam di setiap daerah. Kita yang tinggal di wilayah pesisir utara Kota Cirebon tentu bangga akan hadirnya batik Mega Mendung sebagai tanda koeksistensi perpaduan kultur lokal dengan budaya asing. Sejarah menuliskan bahwa ikon Mega Mendung merupakan simbol eternalitas suku Tionghoa yang bermakna ketenangan yang menyejukkan.

Hal ini bisa diamati dalam simbol kepercayaan penganut Taoisme, di mana salah satu tokoh figur utama mereka, yaitu Lan Tsai Ho / Lan Cai He, terbang di atas awan berbentuk lingkaran seperti Mega Mendung. Para pedagang Cina dahulu melabuhkan komoditas mereka melalui Pelabuhan Muara Jati sebagai pusat distribusi global.

Barang yang dipasarkan pun beragam, antara lain keramik, guci, dan kain bermotif awan. Hal ini akhirnya diadopsi oleh warga lokal untuk membentuk identitas awan Mega Mendung sebagai corak khusus dalam membatik. Walaupun tentu terdapat perbedaan, motif awan Mega Mendung umumnya terdiri dari lima hingga tujuh lapisan yang dalam perspektif Islam menegaskan jumlah rukun Islam dan lapisan langit yang dilalui Nabi Muhammad saat Isra Mi’raj.

Terlebih lagi, saat Sunan Gunung Jati mendakwahkan Islam di wilayah Caruban yang masyarakatnya cenderung berpemahaman animisme dan dinamisme, batik justru dinilai memberikan pengaruh besar agar mereka dapat menerima Islam secara rasional. Sejak abad ke-16, batik menjadi media olahan atas seni kaligrafi yang menggambarkan panorama alam indah sebagai wujud anugerah Ilahi.

Di antara benda yang dilukis dalam batik adalah wadasan atau batu alam, awan Mega Mendung, pohon, dan dedaunan. Warna biru dan putih pun lebih identik melambangkan batik Mega Mendung yang mana ini diambil dari warna keramik Tiongkok. Alhasil, bukan hanya batik yang menjadi simbol pemersatu budaya beragam di Cirebon, tetapi juga penerimaan Islam di tengah masyarakat yang majemuk.

Bahkan Pangeran Syarif Hidayatullah pun menikahi putri Ong Tien dari Dinasti Ming sebagai usaha penyebaran risalah keislaman.

Sejarah Nusantara mencatat bahwa tradisi membatik bukan hanya eksis dan ternama di era kekinian, malahan telah menjadi keelokan dan kekaguman tersendiri bagi etnis Melayu dan Jawa. Dalam karya sastra Hikayat Abdullah yang ditulis menggunakan huruf Jawi pada abad ke-19, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi mengarang sebuah pantun yang menyebut kata batik:

"Apa guna berkain batik, kalau tidak dengan sujinya.

Apa guna beristri cantik, kalau tidak dengan budinya."

Ini mengindikasikan bahwa budaya membatik dan berpantun merupakan realitas sosial yang alamiah di tengah masyarakat serumpun kita kala itu. Sehingga kini pun kita bangga karena setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Apalagi saat ini batik bukan hanya populer di ranah nasional, tetapi juga telah diakui oleh UNESCO sebagai bagian warisan dunia.

Sebagai warga Cirebon, kita pasti bangga akan hadirnya Mega Mendung sebagai ikon batik Kota Wali ini. Belum lagi dengan corak lain yang dipadukan dengan desain Mega Mendung, hal ini menambah daya tarik konsumen serta daya seni itu sendiri. Seperti penggabungan motif burung Phoenix atau kereta kencana Paksi Naga Liman dengan motif Mega Mendung yang membaur dalam kain batik Cirebon.

Dalam tulisannya, Irin Tambrin menambahkan bahwa tradisi membatik dulu hanya diberlakukan di lingkungan Kesultanan Kacirebonan, Kanoman, dan Kasepuhan saja, dan tidak hanya ditorehkan di atas secarik kain. Lebih luas lagi, bahkan membatik pun dituliskan pada dinding keraton, kendaraan pangeran, dan lukisan dinding.

Namun karena syiar Sunan Gunung Jati yang ingin memperkenalkan norma agama dengan tradisi, maka dijadikanlah batik sebagai media yang tepat untuk diperkenalkan kepada masyarakat.

Wajah batik kini berkembang pesat dan elegan di tengah arus modernitas dan kemajuan teknologi. Bahkan batik Mega Mendung khas dari Negeri Caruban ini pun menjadi masyhur di kancah dunia saat ajang New York Fashion Week 2023 kemarin. Dinas Kementerian Pariwisata pun sering memunculkan motif Mega Mendung sebagai simbol batik nasional.

Terbukti dengan disertakannya gambarnya sebagai sarung penutup tempat duduk dalam kereta api, seragam kedinasan, dekorasi mural pada beberapa bangunan publik seperti Stasiun Cirebon dan Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati. Ini sebuah apresiasi nyata dari dunia kepada budaya batik, khususnya batik Cirebon sebagai warisan yang sangat mahal dan perlu dijaga agar ke depan generasi berikutnya mengenal akan hal ini dan mampu meningkatkan prestisenya.

Penulis: M. Sophy A.A., Lc., M.H.Sc. – Dosen Sejarah Peradaban Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....