Keberagaman Menciptakan Kerukunan Cigugur, Ngargoyoso, Balun

  • 07 Agt 2025 21:38 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Keberagaman adalah suatu anugerah Tuhan yang diberikan kepada setiap insan yang seharusnya menjadi perekat tali persahabatan, bukan malah menjadi penyebab perpecahan. Di Indonesia, hal ini bukan lagi menjadi sesuatu yang asing dalam realita sosial, bahkan keragaman telah menjadi semboyan bangsa kita sejak negara ini didirikan.

Bhinneka Tunggal Ika, itulah cerminan dari warga Indonesia yang tumbuh dan berasal dari latar budaya, agama, dan suku yang berbeda. Namun justru hal itu menjadi nilai plus yang unik di tengah masyarakat. Akan tetapi, realitanya, upaya untuk mewujudkan keharmonisan di tengah perbedaan ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Semuanya memerlukan proses dan waktu yang tidak singkat, bahkan terkadang harus diwarnai konflik terlebih dahulu yang akhirnya memicu ruang dialog antarumat beragama untuk saling membaur. Permasalahan terkadang timbul dari hal sepele, contohnya berprasangka negatif tanpa klarifikasi langsung kepada orang yang bersangkutan.

Baru-baru ini, bahkan viral di TikTok, ada seorang warga perumahan yang terganggu oleh suara pengajian tetangganya yang menggunakan loudspeaker. Ia mengungkapkan bahwa tetangganya tidak meminta izin terlebih dahulu untuk mengadakan kegiatan tersebut. Sebaliknya, ketika ia ingin melakukan ritual kidung keagamaan di rumahnya, hal itu dilaporkan kepada RT, yang seolah memicu perselisihan di antara mereka. Dari kisah tersebut, bisa disimpulkan bahwa inti masalahnya bukan disebabkan oleh perbedaan agama di antara mereka, namun sikap tidak saling menghormati, menghargai, dan memahami yang menjadi faktor utama terciptanya perpecahan.

Memang, untuk menguji keharmonisan dalam kehidupan sosial perlu adanya perbedaan, keragaman, dan kemajemukan dalam suatu komunitas. Hal inilah yang tergambar dalam tatanan masyarakat di Nusantara, khususnya di Desa Cigugur, Ngargoyoso, dan Balun.

Desa-desa ini terbilang unik dan bahkan dipromosikan menjadi model dalam konteks kebhinekaan di Indonesia. Pluralitas bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk rukun dan bersatu. Justru hal ini menjadi daya pikat tersendiri bagi orang-orang untuk berkunjung ke sana.

Cigugur adalah sebuah desa di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Masyarakatnya terdiri dari beragam keyakinan dan agama. Menurut Rostiyati, seorang pengamat budaya, desa ini merangkul lima agama yaitu Islam, Katolik, Agama Djawa Sunda (ADS), Hindu, dan Protestan. Meskipun demikian, perbedaan keyakinan tidak menjadikan mereka berpecah belah. Kuncinya adalah saling menghargai dan mentolerir norma yang dijunjung dalam keyakinan masing-masing.

Sebagai contoh, pada acara Seren Taun, hari raya bagi umat Sunda Wiwitan/ADS, maka sebagai muslim mereka akan menyampaikan bahwa mereka tidak dibenarkan mengikuti ritual tersebut dalam ajaran mereka, namun tetap menghormati perayaan itu sebagai bagian dari kegiatan sakral di desa mereka. Alhasil, umat Sunda Wiwitan akan memaklumi sikap dari kerabat muslimnya tersebut dan tidak mengundang mereka dalam seremonial itu, kecuali jika diadakan doa lintas agama.

Lebih dari itu, mereka menjadikan budaya sebagai pemersatu tanpa memandang latar belakang agama. Maka tidak heran apabila kerap kita temui dalam satu keluarga terdiri dari kepercayaan yang berbeda. Mereka meyakini setiap agama mengajarkan kebaikan yang menjadi visi utama kerukunan sosial dalam bermasyarakat.

Kyai Madrais, tokoh ikonik masyarakat adat Cigugur, mengajarkan pentingnya solidaritas sebagai dasar toleransi. Beliaulah yang kemudian dipercaya sebagai leluhur Pangeran Jati Kusumah, tokoh budi pekerti dalam masyarakat Cigugur yang beragam.

Selain itu, di Jawa Tengah, hal serupa yang mencerminkan keragaman yang harmonis juga diwujudkan oleh Desa Ngargoyoso, Kecamatan Karanganyar. Perbedaan ritual keagamaan tidak menyulutkan mereka untuk saling mengasihi. Umpamanya, pada hari raya umat Islam, apabila jatuh pada hari Minggu, maka umat Kristen mengalah untuk mengundurkan perayaan misa mereka ke siang hari.

Nuriyanto dalam jurnalnya menuturkan bahwa mereka pun tidak sungkan menawarkan bantuan menjadi juru parkir bagi kendaraan para jemaah dari kalangan muslim yang hendak salat Id. Begitu pula pada Hari Raya Nyepi, umat Hindu Jawa menyadari bahwa mereka minoritas, sehingga memaklumi apabila lampu dan penerangan umum tetap dinyalakan pada malam hari, selama tidak mengusik keheningan.

Etika bertoleransi yang tumbuh dalam jiwa mereka bahkan melahirkan solidaritas kemanusiaan tanpa memandang asal-usul kepercayaan. Sudah menjadi hal yang lazim dalam tradisi mereka untuk mengangkat anak sebagai asuhan apabila kedua orang tuanya wafat, meskipun berbeda agama.

Mereka menyebutnya dengan putra angon, yang nantinya akan dibesarkan dan disekolahkan bukan berdasarkan agama orang tua angkat, tetapi justru mengikuti latar belakang kepercayaan keluarga anak yatim tersebut.

Kuatnya kerukunan warga Ngargoyoso sangat terikat dengan filosofi Jawa yang mereka junjung, yaitu: "rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah" yang bermakna kerukunan akan membawa kesejahteraan, dan perselisihan membawa kehancuran. Norma luhur adat Jawa inilah yang dijadikan sebagai tujuan utama demi terciptanya kerukunan. Sehingga latar belakang agama apa pun tidak mengaburkan mereka dari sifat toleransi dan saling menghargai.

Hal serupa pun ditunjukkan oleh warga Desa Balun, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Mereka membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadikan mereka berpecah belah. Masyarakat lokal yang kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin ini pun tidak terhasut konflik dalam keberagaman mereka. Mereka merasa bahwa faktor kekeluargaanlah yang menyatukan mereka.

Mbah Alun, tokoh sekaligus pendiri Desa Balun, menjadi simbol persahabatan mereka. Mbah Alun dikisahkan sebelumnya merupakan seorang pandit yang kemudian memeluk Islam. Dalam dakwahnya, beliau mengusung kaidah saling nrimo, saling ngajeni — “saling menerima, saling menghormati” terhadap sesama.

Realita sosial yang sangat miris saat ini, bukan hanya di Indonesia tetapi juga mancanegara, adalah krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh egoisme dan klaim kebenaran sepihak tanpa menghargai pendapat dan keyakinan lainnya. Perbedaan agama, etnik, dan budaya sejatinya tidak menjadikan manusia berselisih, malah seharusnya menjadi alat pemersatu yang harus terus dipelihara.

Cigugur, Ngargoyoso, dan Balun adalah sebagian kecil dari banyak contoh keberagaman di Indonesia yang mampu menciptakan suasana kerukunan di tengah perbedaan.

Penulis:

M. Sophy A.A, Lc., M., H.Sc

Dosen Sejarah Peradaban Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....