Tuntutan Mundur Infantino Semakin Menguat
- 03 Agt 2026 08:01 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Negara-negara Eropa kini tengah merencanakan aksi penarikan surat dukungan secara massal untuk menekan Gianni Infantino dari jabatannya. Langkah drastis ini mengancam posisi Infantino sebagai Presiden FIFA setelah skema privatisasi sebagian hak komersial Piala Dunia gagal total.
Dilansir dari The Guardian, Senin 3 Agustus 2026, ancaman boikot dari asosiasi anggota UEFA terhadap kompetisi FIFA di masa depan menjadi pemicu utama kehancuran rencana komersial tersebut. Situasi emosional yang kian memanas memicu dorongan kuat dari berbagai federasi Eropa untuk segera melengserkan kepemimpinan pria asal Swiss itu.
Sebelum krisis ini meletus, sebanyak 52 dari 55 anggota UEFA telah mengirimkan surat resmi untuk mendukung pencalonan kembali Infantino pada Maret mendatang. Hanya Jerman, Rumania, dan Norwegia yang sejak awal menolak memberikan dukungan tertulis untuk masa jabatan keempat sang presiden.
Kini, penarikan dukungan secara serentak maupun bertahap sedang didiskusikan oleh federasi-federasi Eropa sebagai bentuk mosi tidak percaya secara terbuka. Langkah hukum ini mewajibkan setiap negara pemberontak untuk memberikan notifikasi resmi kepada pihak FIFA terkait pembatalan surat tersebut.
"Tekanan politik dan hilangnya kepercayaan dari federasi Eropa telah membuat posisi kepemimpinan FIFA berada di ambang kehancuran," rilis keterangan pers pihak internal UEFA.
Meskipun begitu, beberapa anggota Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) seperti Qatar, Sri Lanka, dan Kuwait baru saja menyatakan dukungan publik mereka kepada Infantino. Namun, konfederasi Eropa meragukan apakah federasi-federasi Asia tersebut benar-benar memahami besarnya gelombang penolakan yang sedang terjadi saat ini.
Guna mempercepat proses penggantian kepemimpinan, UEFA kini secara aktif berupaya menggalang dukungan serta mencari calon kandidat tandingan yang tepat. Dukungan dari wilayah Asia dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) menjadi kunci utama untuk meruntuhkan dominasi Infantino.
Krisis kepemimpinan serta tekanan mundur yang dihadapi oleh Gianni Infantino ini serupa dengan nasib yang dialami mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter. Mendiang pejabat asal Swiss tersebut akhirnya terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 2015 akibat terpaan skandal korupsi besar-besaran dan tekanan politik dari federasi internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....