Sikap Kedisiplinan dan Budaya Positif Suporter Jadi Pembelajaran Penting

  • 25 Jul 2026 16:58 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Atmosfer penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dinilai memberikan banyak pelajaran berharga bagi iklim sepak bola tanah air, khususnya terkait budaya kedisiplinan serta perilaku suporter. Pembelajaran dari panggung dunia ini menjadi hal krusial yang patut diimplementasikan guna mendorong kemajuan sepak bola Indonesia secara komprehensif.

Pengamat Sepak Bola sekaligus Pendiri Suporter PSGJ Cirebon (Pasoegati), Asep Saepuloh, menyampaikan bahwa salah satu poin penting yang dapat dipetik dari ajang internasional tersebut adalah tingginya tingkat ketertiban dan kedewasaan para pendukung dalam menerima hasil pertandingan. "Artinya patut kita contoh dari gelaran Piala Dunia ini khususnya di ranah supporter ya. Artinya satu masalah ketertiban... bagaimana kekecewaan suporter-suporter tim yang timnya kalah, tidak melampiaskan dengan secara negatif," katanya pada Senin, 20 Juli 2026.

Ia menekankan bahwa kedewasaan suporter di panggung dunia harus menjadi standar baru bagi para pencinta sepak bola di tanah air. Menurutnya, rasa cinta terhadap klub kebanggaan maupun tim nasional seharusnya ditunjukkan melalui sikap yang mendukung dan melindungi tim, bukan justru melakukan tindakan konyol yang merugikan.

"Bagaimana seharusnya supporter itu di dalam mendukung tim. Artinya ya memang sudah sepatutnya tatkala kita mencintai sebuah tim janganlah kita sampai merugikan tim itu sendiri," ujarnya.

Baca juga: Pengembangan Pemain Muda dan Tata Kelola Jadi Kunci Membangun Sepak Bola Nasional

Ia juga menggarisbawahi perlunya ketegangan regulasi serta peran aktif pemerintah dalam memitigasi potensi kerusuhan di arena pertandingan. Belajar dari penerapan sanksi di liga-liga Eropa, ia menilai penegakan hukum yang tegas serta penerapan digitalisasi di stadion dapat menjadi solusi efektif di Indonesia.

"Ini saya kira perlu juga peran aktif pemerintah di dalam memitigasi adanya insidental adanya ekses-ekses yang menimbulkan sesuatu yang merugikan semuanya... yang paling jelas adalah digitalisasi masuk stadion ini yang perlu untuk diterapkan di Indonesia," ucapnya.

Selain perilaku di tribun, ia menyoroti mendesaknya pembenahan pada sistem pembinaan usia dini, khususnya yang berkaitan dengan kedisiplinan dan pembentukan karakter di Sekolah Sepak Bola (SSB). Pembinaan pemain muda dinilainya tidak cukup hanya secara teori, tetapi harus diimbangi dengan keteladanan nyata dari para pengajar.

Ia juga mendorong pentingnya kontinuitas kompetisi usia dini yang terintegrasi secara berjenjang melalui sinergi antarinstansi, seperti Dinas Pendidikan. Model pembinaan yang terstruktur dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi dianggap dapat mencegah potensi atlet muda yang kerap redup saat memasuki usia matang.

"Kita perlu adanya kontinuitas terutamanya adalah yang pertama adalah masalah pembinaan tidak hanya dilakukan oleh federasi itu sendiri dalam hal ini PSSI. Melainkan butuh adanya kontinuitas secara berjenjang kompetisi yang ini sebetulnya bisa melibatkan dinas-dinas terkait yang lain," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa fondasi utama penguatan ekosistem sepak bola adalah membangun kesadaran bersama antar-elemen. Suporter diharapkan dapat mengambil peran aktif untuk mengedukasi agar menciptakan hubungan harmonis antara klub dan pendukungnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....