Pengembangan Pemain Muda dan Tata Kelola Jadi Kunci Membangun Sepak Bola Nasional
- 25 Jul 2026 16:40 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Piala Dunia 2026 telah usai menyisakan banyak pelajaran berharga bagi peta jalan sepak bola Indonesia. Ketatnya persaingan global serta dominasi pemain muda yang sukses di panggung tertinggi dunia dinilai menjadi cermin besar bagi pembenahan tata kelola sepak bola nasional, khususnya dari sisi regenerasi pemain dan pengelolaan kompetisi domestik.
Ketua Askab PSSI Majalengka, Asep Mulyana Muslim, menegaskan bahwa fenomena munculnya talenta-talenta muda yang mampu berbicara banyak di level dunia harus dicermati oleh para pengelola sepak bola di tanah air. Menurutnya, keberanian pelatih dalam memberikan jam terbang kepada pemain muda merupakan kunci utama dalam membentuk mentalitas serta kualitas bertanding di level tertinggi.
"Salah satunya kan berani memainkan pemain muda. Nah, di Indonesia ya pemain-pemain muda yang berlaga di Liga 1, Liga 2, terutama Liga 1 jangan sampai hanya menjadi pajangan gitu kan. Terus diberikan menit bermain," ujarnya pada Senin, 20 Juli 2026.
Ia menyoroti pentingnya peran pelatih klub-klub di liga domestik untuk tidak hanya berfokus pada hasil instan semata, melainkan juga berkomitmen merawat proses pembinaan. Ia menekankan bahwa rekam jejak seorang pelatih sejatinya diukur dari keberaniannya dalam mengorbitkan dan mematangkan talenta muda berbakat agar siap bersaing di level senior.
"Ada jejak rekam pelatih. Dia itu tidak hanya bisa meramu tim, tapi dia bisa mencetak berapa beberapa pemain muda yang diorbitkan," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena minimnya menit bermain bagi talenta muda di kompetisi kasta teratas. Menurutnya, besarnya tekanan dari suporter maupun sponsor yang menuntut hasil secara instan acap kali membuat manajemen dan tim pelatih enggan mengambil risiko untuk menerjunkan pemain-pemain muda di laga-laga krusial.
Ia juga menyoroti pola pembinaan di tingkat akar rumput dan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang dinilai sering terjebak pada orientasi piala semata. Hal tersebut dinilai kerap membuat anak-anak matang sebelum waktunya tanpa dibekali pemahaman pembinaan yang berkelanjutan dan berjenjang.
"Sekarang banyak SSB-SSB yang terjebak dengan ikut turnamen, ngejarnya piala, ngejar juara. Tapi mereka tidak memikirkan kalau sudah pegang juara, sudah mendapat piala, next anak itu mau ke mana? Sampai level mana anak itu bersaing," ucapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia mendorong agar kompetisi usia muda seperti Elite Pro Academy (EPA) benar-benar dikelola secara profesional dan bebas dari praktik-praktik yang merugikan perkembangan atlet. PSSI beserta klub-klub peserta liga diharapkan dapat menjadikan kompetisi resmi sebagai wadah penyaringan talenta murni yang transparan dan akuntabel.
Ia menekankan pentingnya pemenuhan standar infrastruktur dan komitmen finansial dari klub-klub liga profesional untuk menyokong program pembinaan usia dini secara mandiri dan konsisten.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....